Showing posts with label Sesat. Show all posts
Showing posts with label Sesat. Show all posts

Ngalap Berkah - Tabarruk Di Malam Isra' Mi'raj Yang Diajarkan Malaikat Jibril dan Rasulullah SAW

Di bawah pohon tempat dahulu Nabi Musa beristirahat setelah dikejar-kejar tentara fir'aun, Jibril memerintahkan Rasulullah SAW untuk melakukan shalat, dan Rasulullah SAW pun shalat.
Di gunung Thursina tempat Nabi Musa bercakap menerima kalam Allah, Jibril memerintahkan Rasulullah SAW untuk melakukan shalat, dan Rasulullah SAW pun shalat.
Di Baitul-Lahmi tempat Nabi Isa dilahirkan, Jibril memerintahkan Rasulullah SAW untuk melakukan shalat, dan Rasulullah SAW pun shalat.
-kutipan perjalanan isra' dari Masjid Al-Haram menuju Masjid Al-Aqsha -
by Habib Ahmad Bin Nauvel Bin Salim Bin Jindan, Majelis Rasulullah SAW
=======================================
Aqidah Ahlussunnah Wal Jama'ah = Mendatangi tempat-tempat yang pernah ditempati/didatangi oleh orang shaleh (bekas orang shaleh), kemudian beribadah dan berdoa disitu adalah sangat dianjurkan, sebagaimana Allah telah mengutus Jibril dan memerintahkan Rasulullah SAW untuk Shalat di tempat yang pernah menjadi tempat Nabi Musa dan Nabi Isa, padahal Nabi Muhammad SAW adalah paling mulianya Nabi dan Utusan Allah.
Yang seperti ini sering disebut Tabarruk atau Ngalap Berkah.
Namun sekte "firqah wahabi" sangat tidak suka dengan kebiasaan seperti itu, sehingga banyak tempat-tempat yang pernah dikunjungi orang shaleh yang dihancurkan. bahkan Gua Uhud yang pernah menjadi tempat istirahat dan persembunyian Rasulullah SAW dijadikan tempat pembuangan kotoran oleh mereka.

Gua Uhud Tetap Wangi Walaupun dijadikan Tempat Pembuangan Kotoran oleh Firqah Wahabi

Tabarruk Dengan Makam Orang Shalih Dalam Madzhab Hanbali

سَأَلْتُهُ عَنِ الرَّجُلِ يَمَسُّ مِنْبَرَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم وَيَتَبَرَّكُ بِمَسِّهِ وَيُقَبِّلُهُ وَيَفْعَلُ بِالْقَبْرِ مِثْلَ ذَلِكَ أَوْ نَحْوَ هَذَا يُرِيْدُ بِذَلِكَ التَّقَرُّبَ إِلىَ اللهِ جَلَّ وَعَزَّ فَقَالَ : لاَ بَأْسَ بِذَلِكَ

(3243) Aku bertanya kepada ayahanda, al-Imam Ahmad bin Hanbal, tentang seorang laki-laki mengusap mimbar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bermaksud tabarruk dengan mengusapnya itu, ia mencium mimbar itu, dan melakukan hal yang sama terhadap makam Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam atau yang seperti itu dengan maksud ber-taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah - jalla wa ‘azza. Beliau menjawab: “Boleh/tidak apa”. (Al-Imam Ahmad bin Hanbal, al-‘Ilal wa Ma’rifah al-Rijal, juz 2 halaman 492).


Meskipun Imam Ahmad membolehkan, namun sebagian mereka yang mengklaim sebagai pengikut Madzhab Imam Ahmad (madzhab resmi saudi arabia) tetap tidak setuju. Mereka menggunakan akal pikirannya sendiri.
Ulama' panutan Wahabi seperti Ibnu Taimiyah dan Bin Bazz mengkafirkan orang yang yang bertabarruk.
---------------------
bacaan kitab online:

dikutip dari:

Ngalap Berkah: Ketika Para Sahabat Berebutan Air Bekas Wudu' Rasulullah SAW, Bahkan Rasulullah SAW Menyuruh Meminumnya

حَدَّثَنَا آدَمُ قَالَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ قَالَ حَدَّثَنَا الْحَكَمُ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا جُحَيْفَةَ يَقُولُ خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْهَاجِرَةِ فَأُتِيَ بِوَضُوءٍ فَتَوَضَّأَ فَجَعَلَ النَّاسُ يَأْخُذُونَ مِنْ فَضْلِ وَضُوئِهِ فَيَتَمَسَّحُونَ بِهِ فَصَلَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الظُّهْرَ رَكْعَتَيْنِ وَالْعَصْرَ رَكْعَتَيْنِ وَبَيْنَ يَدَيْهِ عَنَزَةٌ وَقَالَ أَبُو مُوسَى دَعَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقَدَحٍ فِيهِ مَاءٌ فَغَسَلَ يَدَيْهِ وَوَجْهَهُ فِيهِ وَمَجَّ فِيهِ ثُمَّ قَالَ لَهُمَا اشْرَبَا مِنْهُ وَأَفْرِغَا عَلَى وُجُوهِكُمَا وَنُحُورِكُمَا

Telah menceritakan kepada kami Adam berkata, telah menceritakan kepada kami Syu'bah berkata, telah menceritakan kepada kami Al Hakam berkata, aku pernah mendengar Abu Juhaifah berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah keluar mendatangi kami di waktu tengah hari yang panas. Beliau lalu diberi air wudlu hingga beliau pun berwudlu, orang-orang lalu mengambil sisa air wudlu beliau seraya mengusap-ngusapkannya. Kemudian Nabi shallallahu 'alaihi wasallam shalat Dhuhur dua rakaat dan 'ashar dua rakaat sedang di depannya diletakkan tombak kecil." Abu Musa berkata, "Nabi shallallahu 'alaihi wasallam meminta bejana berisi air, beliau lalu membasuh kedua tangan dan mukanya di dalamnya, lalu menyentuh air untuk memberkahinya seraya berkata kepada keduanya (Abu Musa dan Bilal): "Minumlah darinya dan usapkanlah pada wajah dan leher kalian

Sahabat Rasulullah SAW Yang Ahli Bid'ah Hasanah (Shahih Bukhari No. 757 )

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ عَنْ مَالِكٍ عَنْ نُعَيْمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الْمُجْمِرِ عَنْ عَلِيِّ بْنِ يَحْيَى بْنِ خَلَّادٍ الزُّرَقِيِّ عَنْ أَبِيهِ عَنْ رِفَاعَةَ بْنِ رَافِعٍ الزُّرَقِيِّ قَالَ كُنَّا يَوْمًا نُصَلِّي وَرَاءَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنْ الرَّكْعَةِ قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ قَالَ رَجُلٌ وَرَاءَهُ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ فَلَمَّا انْصَرَفَ قَالَ مَنْ الْمُتَكَلِّمُ قَالَ أَنَا قَالَ رَأَيْتُ بِضْعَةً وَثَلَاثِينَ مَلَكًا يَبْتَدِرُونَهَا أَيُّهُمْ يَكْتُبُهَا أَوَّلُ



Telah menceritakan kepada kami 'Abdullah bin Maslamah dari Malik dari Nu'aim bin 'Abdullah Al Mujmir dari 'Ali bin Yahya bin Khallad Az Zuraqi dari Bapaknya dari Rifa'ah bin Rafi' Az Zuraqi berkata, "Pada suatu hari kami shalat di belakang Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Ketika mengangkat kepalanya dari rukuk beliau mengucapkan: 'SAMI'ALLAHU LIMAN HAMIDAH (Allah mendengar pujian orang yang memuji-Nya) '. Kemudian ada seorang laki-laki yang berada di belakang beliau membaca; 'RABBANAA WA LAKAL HAMDU HAMDAN KATSIIRAN THAYYIBAN MUBAARAKAN FIIHI (Wahai Tuhan kami, bagi-Mu segala pujian, aku memuji-Mu dengan pujian yang banyak, yang baik dan penuh berkah) '." Selesai shalat beliau bertanya: "Siapa orang yang membaca kalimat tadi?" Orang itu menjawab, "Saya." Beliau bersabda: "Aku melihat lebih dari tiga puluh Malaikat berebut untuk lebih dahulu mencatat (pahala) kalimat tersebut." (Shahih Bukhari, Hadits No. 757)
______
Rasulullah SAW tidak mengajarkan, tidak mencontohkan kalimat tersebut kepada para sahabat-sahabatnya, eh malah sahabat ngarang sendiri bikin bid’ah hasanah, bikin “syare’at baru”.  Dan Rasulullah SAW tidak bilang bahwa Sahabat itu sesat atau kafir karena membuat/ngarang bid’ah hasanah.

Gak kayak sang ahli bid’ah dolalah si Salafi Wahabi yang hobinya melarang-larang amalan-amalan baik yang tidak dilarang oleh Rasulullah SAW.

Bilal Bin Harits, Sahabat Rasulullah SAW Yang Dikafirkan Oleh Wahabi (Tanduk Setan)

Di dalam kitab Fathu Al-Bari syarah Shohih Bukhori yang dikarang oleh seorang ulama ahli hadits yaitu Syaikh Ibnu Hajar juz 2 halaman 577 menyebutkan sebuah hadits berikut ini :
وروى إبن أبي شيبة بإسناد صحيح ، من رواية أبي صالح السمان ، عن مالك الداري وكان خازن عمر قال : أصاب الناس قحط في زمن عمر فجاء رجل إلى قبر النبي (ص) فقال : يا رسول الله إستسق لأمتك فإنهم قد هلكوا ، فأتى الرجل في المنام فقيل له : إئت عمر. وقد روى سيف في الفتوح أن الذي رأى المنام المذكور هو بلال بن الحارث المزني أحد الصحابة .
Diwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dengan sanad yang shohih dari Abu Salih as-Saman dari Malik ad-Dar –seorang bendahara Umar–. yang ber- kata: “Masyarakat mengalami paceklik pada zaman (kekhalifahan) Umar. Lantas seseorang datang kemakam Nabi saw. seraya berkata: ‘Ya Rasulullah mohonkan (kepada Allah swt) hujan untuk umatmu, karena mereka hendak binasa’. Kemudian didalam tidur bermimpi datanglah seseorang dan berkata kepadanya: ‘Datangilah Umar’! Saif juga meriwayatkan hal tersebut dalam kitab al-Futuh ; Sesungguhnya lelaki yang bermimpi tadi adalah Bilal bin al-Harits al-Muzni , salah seorang sahabat.” ( Lihat: Kitab Fathul Bari 2/577)

Imam Hasan Bashri dan Gadis Kecil Ngobrol Dengan Kuburan

Sore itu Hasan al-Bashri (termasuk imam tabi'in) sedang duduk-duduk di teras rumahnya. Rupanya ia sedang bersantai. Tak lama setelah ia duduk bersantai, lewat jenazah dengan iring-iringan pelayat di belakangnya. Di bawah keranda jenazah yang sedang diusung berjalan gadis kecil sambil terisak-isak. Rambutnya tampak kusut dan terurai, tak beraturan.
Al-Bashri tertarik penampilan gadis kecil tadi. Ia turun dari rumahnya dan turut dalam iring-iringan. Ia berjalan di belakang gadis kecil itu.
Di antara tangisan gadis itu terdengar kata-kata yang menggambarkan kesedihan hatinya.
“Ayah, baru kali ini aku mengalami peristiwa seperti ini.”
Hasan al-Bashri menyahut ucapan sang gadis kecil, “Ayahmu juga sebelumnya tak mengalami peristiwa seperti ini.”
Keesokan harinya, usai salat subuh, ketika matahari menampakkan dirinya di ufuk timur, sebagaimana biasanya Al-Bashri duduk di teras rumahnya. Sejurus kemudian, gadis kecil kemarin melintas ke arah makam ayahnya. “Gadis kecil yang bijak,” gumam Al-Bashri. “Aku akan ikuti gadis

Ketika Rasulullah 'bertaklid' Pada Seorang A'rabi (arab badui)

Diriwayatkan ketika Rasulullah saw sedang berthawaf, beliau mendengar seorang A’rabi (Arab Badui dari gunung) berkata dengan suara keras “Ya Kariim”. Rasulullah saw pun mengikutinya dari belakang dan berkata “Ya Kariim”. Kemudian A’rabi itu berjalan menuju ke arah pancuran Kab’ah lalu berkata lagi dengan suara lebih keras “Ya Kariiim”. Rasulullah saw pun mengikutinya dari belakang, juga berkata “Ya Karim”.Berasa ada yang mengikutinya dari belakang, A’rabi tadi menengok ke arah suara, lalu berkata,
“Apa maksudmu mengikuti perkataanku?. Apakah kau sengaja mengejekku karena aku seorang A’rabi, Arab Badui dari gunung?. Demi Allah, kalau bukan karena wajahmu yang bersinar dan parasmu yang indah maka aku akan adukan hal ini kepada kekasihku Muhammad, Rasulallah saw.”
Rasulallah saw pun tersenyum lebar mendengar uraian A’rabi tadi, lalu berkata,
“Wahai saudaraku, apakah kau pernah melihat Muhammad Rasulullah?”
A’rabi tadi berkata,

“Aku belum pernah melihatnya sama sekali.”

Ngobrol Dengan Kuburan, Syirik?

Di dalam kitab Tafsir Ahkam, Imam Al Qurtubi menguraikan bahwa firman Allah:
فَإِنَّكَ لَا تُسْمِعُ الْمَوْتَى
“Maka sesungguhnya kamu tidaklah bisa membuat orang-orang yang mati itu mendengar…. (allah yang membuatnya mendengar)” (QS. Ar-Rum: 52)
adalah berkaitan dengan peristiwa pertanyaan sahabat Umar bin Khattab saat Rasulullah SAW memanggil tiga orang pemimpin kafir Quraisy dalam perang Badar yang telah mati beberapa hari. Saat itu Rasulullah SAW ditanya oleh Umar bin Khattab RA:

يا رسول الله تناديهم بعد ثلاث وهل يسمعون ؟ يقول الله إنك لا تسمع الموتى فقال : والذي نفسي بيده ما أنتم بأسمع منهم ولكنهم لا يطيقون أن يجيبوا
“Ya Rasulullah!, apakah engkau memanggil-manggil mereka yang telah meninggal tiga hari? dan apakah mereka bisa mendengarkan panggilanmu. Bukankah Allah SWT telah berfirman: 'Maka sesungguhnya kamu tidaklah membuat orang-orang yang mati itu mendengar….?'. Rasulullah SAW menjawab: ‘Demi Dzat yang jiwaku ada dalam kekuasaan-Nya, tidaklah engkau lebih mendengar melebihi pendengaran mereka, hanya saja mereka tidak mampu menjawab’.”(HR. Muslim dari Imam Anas RA).

Tawassul Nabi Adam Kepada Nabi Muhammad

Dalam syair Burdah-nya yang ter­amat indah dan termasyhur, Imam Syarafuddin Abu Abdillah Muhammad bin Sa’id Ash-Shanhaji Al-Bushiri mengung­kapkan bait-bait tawasul kepada Rasul­ullah SAW:

Wahai makhluk yang paling mulia Tiada ada satu apa pun yang ‘ku bersandar padanya selain engkau di saat turunnya bencana yang menimpa seluruh makhluk

Wahai Rasulullah,

sungguh tiada berkurang derajatmu karenaku

di saat Yang Maha Pemurah bertajalli dengan asma-Nya Yang Maha Pendendam

Dahsyatnya tawasul tidak hanya di­kenal oleh umat Islam, melainkan sudah dikenal oleh umat-umat penganut aga­ma samawi sejak dahulu kala, sebagaimana dinukilkan dalam kitab-kitab ula­ma. Karena manusia yang pertama kali bertawasul adalah ayah semua manu­sia, yakni Nabi Adam AS.

Dari Umar RA, Rasulullah SAW ber­sabda, “Setelah Adam mengakui kesa­lahan yang dilakukannya, ia berkata, ‘Wahai Tuhanku, Aku memohon dengan haq Muhammad agar Engkau mengampuniku.’


Ketika Sahabat Rasulullah Curhat Pada Kuburan

Imam Al-Darimy menyatakan dalam kitabnya Al-Sunan (pada bab Penghormatan Allah SWT kepada Nabi Muhammad setelah wafat): “Diceritakan dari Abu Nu’man, dari Sa’id Ibn Zaid, dari ‘Amr lbn Malik Al-Bakari, dari Abu Al-Jauza’ Aus Ibn Abdillah, ia berkata, “Pada suatu ketika, penduduk Madinah ditimpa kemarau panjang yang mencekik, sehingga mereka mengadu kepada Aisyah ra”. Aisyah berkata: “Lihatlah kubur Nabi dan buatlah sebuah lubang yang tembus ke langit di atasnya, sehingga tidak ada atap antaranya dengan langit itu.” Lantas ~ demikian menurut para perawi hadits — merekapun melakukan saran Aisyah ra, dan lak lama kemudian hujan lurun dengan lebat; sehingga rerumputan tumbuh dengan seketika, dan onta menjadi gemuk (bahkan sampai pecah-pecah lantaran kelewat gemuk). Sehingga tahun itu kemudian disebut sebagai ‘Am Al-Fatq (tahun pecah-pecah).
(Sunan Darimy, jilid 1, halaman 43)

Inilah tawassul dengan kubur Nabi, yang semata-mata bukan dengan keadaannya sebagai kubur, tetapi kubur itu menyimpan jasad dari makhluk paling mulia di kolong jagad ini, seorang kekasih Allah.
Sehingga kuburan tersebut menjadi mulia lantaran menyimpan jasad tersebut, dan menjadi pantas disifatkan dengan sifat mulia.

Cinta Sahabat Bilal Kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم

Setelah Rasulullah SAW wafat pada tahun ke-11 H, Bilal merasakan hari-harinya dipenuhi dengan kerinduan dan kenangan hidup yang mendalam bersama Nabi. Tak tahan itu terus mengganggu hari-harinya, ia pun berhijrah ke Syam (Suriah, sekarang). Namun, kenangan dan kerinduannya akan Rasul selalu ada dalam benaknya.

Suatu malam, ia bermimpi. Orang yang dikasihinya hadir dalam mimpinya. Dalam mimpi itu, Rasul bertanya kepadanya. “Kebekuan apakah ini hai Bilal? Bukankah sudah waktunya engkau mengunjungiku?” Maksudnya sudah lama engkau tidak mengunjungiku wahai Bilal.

Spontan Bilal terjaga dari tidurnya. Ketakutan dan kesedihan tidak dapat ia sembunyikan dari air mukanya. Secepat kilat ia meraih tunggangannya. Meluncur menuju Madinah Al-Munawarah. Sesampai di kuburan Rasulullah, tanpa terasa air matanya tumpah. Ia bolak-balikkan wajahnya di atas pusara kekasihnya.

Ketika Rasulullah SAW Berbicara Memanggil Orang Yang Sudah Mati

Telah mengabarkan kepada kami Suwaid bin Nashr dia berkata; telah memberitakan kepada kami 'Abdullah dari Humaid dari Anas dia berkata; Kaum muslimin mendengar pada malam hari di sumur Badar Rasulullah SAW berdiri memanggil; "Wahai Abu Jahal bin Hisyam, Wahai Syaibah bin Rabi'ah, Wahai Utbah bin Rabi'ah, Wahai Umayyah bin Khalaf, Apakah kalian telah mendapatkan apa yang dijanjikan oleh Rabb kalian? Maka sungguh aku telah mendapatkan kebenaran dari apa yang telah dijanjikan Allah kepadaku." Mereka berkata; "Wahai Rasulullah, Apakah engkau memanggil kaum yang telah menjadi bangkai?", maka beliau menjawab: "Tidaklah kalian lebih bisa mendengar dari mereka terhadap apa yang kukatakan, tetapi mereka tidak mampu menjawab." SUNAN NASA'I 2048

Khalid Bin Walid, Pencinta Rasulullah, The Master of Ngalap Berkah

Imam Malik berkata, “Khalid bin Walid memiliki sebuah tutup kepala yang berisi beberapa helai rambut Rasulullah SAW. Dengan itulah ia bertabarruk dan selalu memenangkan perang, di antaranya adalah perang Yarmuk.”
Padahal ketika itu jumlah pasukan muslim hanya 39.000 orang menghadapi Bizantium (romawi) yang berjumlah 240.000 pasukan. Masya Allah…
Di tengah perang yang sedang berkecamuk hebat, ketika penutup kepalanya terlepas karena tersabet pedang musuh, ia tak perduli dengan serangan orang kafir. Dia lebih khawatir kehilangan rambut sang Nabi… daripada kehilangan nyawanya sendiri.

Coba simak sepenuh hati video klip ini… Sebuah Video singkat yang begitu berkesan bagi para pecinta nabi di zaman ini. Sebuah kecintaan seseorang kepada Rasulullah SAW yang sedemikian besar melebihi nyawanya sendiri.


sering-sering kunjungi: ummatipress.com

Ketika Rasulullah Berbicara Dengan Putranya Yang Telah Wafat


Diriwayatkan dikala Ibrahim putera Rasulullah SAW telah dimakamkan, Beliau bersabda, “Wahai puteraku Ibrahim, jika malaikat mendatangimu maka katakan pada mereka, ‘Allah Tuhanku, Rasulullah ayahku dan islam agamaku”.
 

Dibelakang Baginda SAW, Sahabat Umar bin Khattab ra menangis sesegukan mendengar apa yang telah diucapkan oleh Rasulullah.
 

“Kenapa engkau menangis wahai Umar?” Tanya Baginda SAW. Umar bin Khattab ra menjawab, “Wahai Rasulullah, puteramu ini belum sampai usia baligh dan belum berlaku padanya catatan alqalam (pena yang mencatat amal si hamba) padahal dia tidak butuh ditalqin (dituntun). Lalu bagaimana nasib Umar bin Khattab yang telah mencapai usia baligh, berlaku baginya catatan alqalam, sementara dia tidak mendapati penalqin seperti Anda wahai Rasulullah.”

_____________________
 nb:
bicara pada org meninggal dan sudah dikuburkan sudah biasa bagi Rasulullah, pernah terjadi juga di Badar dan pemakaman Baqi'
Tolong yah pemirsah wahabi... Rasulullah jangan disesatkan, please...!

Cinta Berlebihan Kepada Rasulullah

 Shahih Muslim 5060

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ يَعْنِي ابْنَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ سُهَيْلٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مِنْ أَشَدِّ أُمَّتِي لِي حُبًّا نَاسٌ يَكُونُونَ بَعْدِي يَوَدُّ أَحَدُهُمْ لَوْ رَآنِي بِأَهْلِهِ وَمَالِهِ
Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa'id telah menceritakan kepada kami Ya'qub bin Abdurrahman dari Suhail dari ayahnya dari Abu Hurairah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam bersabda: "ada diantara ummatku yang sangat mencintaiku, mereka adalah orang-orang sepeninggalku, yang diantara mereka ingin melihatku walau dengan (mengorbankan) keluarganya dan hartanya."


Shahih Bukhari no.13 dan 14

حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ قَالَ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ
Telah menceritakan kepada kami Abu Al Yaman berkata, telah mengabarkan kepada kami Syu'aib berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Az Zanad dari Al A'raj dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berkata: "Maka demi Zat yang jiwaku di tangan-Nya, tidaklah beriman seorang dari kalian hingga aku lebih dicintainya daripada orang tuanya dan anaknya". 


حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ قَالَ حَدَّثَنَا ابْنُ عُلَيَّةَ عَنْ عَبْدِ الْعَزِيزِ بْنِ صُهَيْبٍ عَنْ أَنَسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ح و حَدَّثَنَا آدَمُ قَالَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسٍ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ
Telah menceritakan kepada kami Ya'qub bin Ibrahim berkata, telah menceritakan kepada kami Ibnu 'Ulayyah dari Abdul 'Aziz bin Shuhaib dari Anas dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam Dan telah menceritakan pula kepada kami Adam berkata, telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari Qotadah dari Anas berkata, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berskata: "Tidaklah beriman seorang dari kalian hingga aku lebih dicintainya daripada orang tuanya, anaknya dan dari manusia seluruhnya".

'Kesesatan' Syirik Putri Rasulullah Fathimah Yang Bicara Pada Orang Mati (Ibnu Majah no. 1620)

و حَدَّثَنَا ثَابِتٌ عَنْ أَنَسٍ أَنَّ فَاطِمَةَ قَالَتْ حِينَ قُبِضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَا أَبَتَاهُ إِلَى جِبْرَائِيلَ أَنْعَاهُ وَا أَبَتَاهُ مِنْ رَبِّهِ مَا أَدْنَاهُ وَا أَبَتَاهُ جَنَّةُ الْفِرْدَوْسِ مَأْوَاهُ وَا أَبَتَاهُ أَجَابَ رَبًّا دَعَاهُ قَالَ حَمَّادٌ فَرَأَيْتُ ثَابِتًا حِينَ حَدَّثَ بِهَذَا الْحَدِيثِ بَكَى حَتَّى رَأَيْتُ أَضْلَاعَهُ تَخْتَلِفُ

Telah menceritakan kepada kami Tsabit dari Anas bahwa Fatimah pernah berkata ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam wafat, "Wahai bapakku, kepada Jibril kami memberitahu. Wahai bapakku, engkau dekat dengan Tuhanmu. Wahai bapakku, surga Firdaus tempatmu. Wahai bapakku, Tuhanmu telah menjawab do`amu. " Hammad berkata, "Ketika membacakan hadits ini aku melihat ia menangis, seakan-akan aku melihat tulang rusuknya bersilangan. "

Menurut kaedah Sekte Salafi Wahabi Tanduk Setan An-Najdi, apa yang dilakukan Fathimah tersebut adalah Syirik karena bicara kepada yang sudah mati. Tapi Para Ulama Ahlussunnah Waljama'ah membolehkannya karena Rasulullah juga pernah bicara kepada orang mati korban perang badar. dan lagi Tidak ada unsur menduakan Allah dalam kalimat-kalimat yang diucapkan tsb.

'Kesesatan' Khalifah Utsman Bin Affan, Sang Ahli Bid'ah (Shahih Bukhari no. 861, Tirmidzy no. 474)

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مَنِيعٍ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ خَالِدٍ الْخَيَّاطُ عَنْ ابْنِ أَبِي ذِئْبٍ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ السَّائِبِ بْنِ يَزِيدَ قَالَ كَانَ الْأَذَانُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ إِذَا خَرَجَ الْإِمَامُ وَإِذَا أُقِيمَتْ الصَّلَاةُ فَلَمَّا كَانَ عُثْمَانُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ زَادَ النِّدَاءَ الثَّالِثَ عَلَى الزَّوْرَاءِ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Mani', telah menceritakan kepada kami Hammad bin Khalid Al Khayyath dari Ibnu Abu Dzi'b dari Az Zuhri dari As Sa'ib bin Yazid dia berkata, pada masa Rasulullah Shallahu 'alaihi wa sallam, Abu Bakar dan Umar adzan (dikumandangkan) yaitu ketika imam telah keluar (menuju masjid) dan iqamat telah ditegakkan. Akan tetapi Utsman menambah adzan ketiga diatas tempat yang jauh dari masjid. Abu Isa berkata, ini adalah hadits hasan shahih.(tirmidzy no. 474)


حَدَّثَنَا آدَمُ قَالَ حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي ذِئْبٍ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ السَّائِبِ بْنِ يَزِيدَ قَالَ كَانَ النِّدَاءُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَوَّلُهُ إِذَا جَلَسَ الْإِمَامُ عَلَى الْمِنْبَرِ عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا فَلَمَّا كَانَ عُثْمَانُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَكَثُرَ النَّاسُ زَادَ النِّدَاءَ الثَّالِثَ عَلَى الزَّوْرَاءِ قَالَ أَبُو عَبْد اللَّهِ الزَّوْرَاءُ مَوْضِعٌ بِالسُّوقِ بِالْمَدِينَةِ

Telah menceritakan kepada kami Adam berkata, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Dzi'b dari Az Zuhri dari As Sa'ib bin Yazid berkata, "Adzan panggilan shalat Jum'at pada mulanya dilakukan ketika imam sudah duduk di atas mimbar. Hal ini dipraktekkan sejak zaman Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, Abu Bakar dan 'Umar? radliallahu 'anhuma. Ketika masa 'Utsman? radliallahu 'anhu dan manusia sudah semakin banyak, maka dia menambah adzan ketiga di Az Zaura'." Abu 'Abdullah berkata, "Az Zaura' adalah bangunan yang ada di pasar di Kota Madinah." (Bukhari no.861)


Menurut Sekte Salafi Wahabi Tanduk Setan An-Najdi, apa yang diperintahkan Khalifah Utsman tersebut adalah bid'ah yang sesat, dan para sahabat serta kaum muslim dimasa itu yang diam sepakat dan tidak menentang perintah Khalifah Utsman tersebut juga sesat. 
Tapi Para Ulama Ahlussunnah Waljama'ah sepakat bahwa yang demikian itu adalah bid'ah hasanah yang diperbolehkan. Apalagi Khalifah Utsman Termasuk Sahabat Rasulullah yang dijamin masuk surga oleh Rasulullah.

Bid'ah & 'Kesesatan' Sayyidah Aisyah, Istri Rasulullah dan Penduduk Madinah (Addarimi no. 92)


"Suatu hari penduduk Madinah dilanda kekeringan yang sangat hebat, dan saat itu mereka mengadu kepada Aisyah Radliyallahu'anha, kemudian ia berkata: "Pergilah ke kubur Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, buatlah lubang ke arah langit dan jangan sampai ada atap diantaranya dengan langit. Kemudian Abu Al Jauza` melanjutkan kisahnya: " kemudian masyarakat Madinah melakukan apa yang diperintahkan Aisyah....." 

حَدَّثَنَا أَبُو النُّعْمَانِ حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ زَيْدٍ حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ مَالِكٍ النُّكْرِيُّ حَدَّثَنَا أَبُو الْجَوْزَاءِ أَوْسُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ قُحِطَ أَهْلُ الْمَدِينَةِ قَحْطًا شَدِيدًا فَشَكَوْا إِلَى عَائِشَةَ فَقَالَتْ انْظُرُوا قَبْرَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاجْعَلُوا مِنْهُ كِوًى إِلَى السَّمَاءِ حَتَّى لَا يَكُونَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ السَّمَاءِ سَقْفٌ قَالَ فَفَعَلُوا فَمُطِرْنَا مَطَرًا حَتَّى نَبَتَ الْعُشْبُ وَسَمِنَتْ الْإِبِلُ حَتَّى تَفَتَّقَتْ مِنْ الشَّحْمِ فَسُمِّيَ عَامَ الْفَتْقِ

Telah menceritakan kepada kami Abu Nu'man telah menceritakan kepada kami Sa'id bin Zaid telah menceritakan kepada kami Umar bin Malik An Nukri telah menceritakan kepada kami Abu Al Jauza` Aus bin Abdullah, ia berkata: "Suatu hari penduduk Madinah dilanda kekeringan yang sangat hebat, dan saat itu mereka mengadu kepada Aisyah Radliyallahu'anha, kemudian ia berkata: "Pergilah ke kubur Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, buatlah lubang ke arah langit dan jangan sampai ada atap diantaranya dengan langit. Kemudian Abu Al Jauza` melanjutkan kisahnya: " kemudian masyarakat Madinah melakukan apa yang diperintahkan Aisyah Radliyallahu'anha, setelah itu, turunlah hujan dan rerumputan pun tumbuh dan ternak-ternak menjadi sehat. Karenanya tahun tersebut disebut dengan tahun kebebasan (dari paceklik)".  (Addarimi no. 92)

Menurut Sekte Salafi Wahabi Tanduk Setan An-Najdi, apa yang dilakukan sahabat tersebut adalah Syirik. Tapi Para Ulama Ahlussunnah Waljama'ah sepakat bahwa yang spt itu adalah bentuk tabarruk yang dibolehkan.

Amalan Syirik Sahabat Rasulullah (Shahih Bukhari no.5809)

 "Apabila Nabi shallallahu 'alaihi wasallam telah tidur, maka Ummu Sulaim mengambil keringat dan rambutnya yang terjatuh dan meletakkannya di wadah kaca, setelah itu ia mengumpulkannya di sukk (ramuan minyak wangi), Tsumamah berkata; 'Ketika Anas bin Malik hendak meninggal dunia, maka dia berwasiat supaya ramuan tersebut dicampurkan ke dalam hanuth (ramuan yang digunakan untuk meminyaki mayyit), akhirnya ramuan tersebut diletakkan di hanuth (ramuan yang digunakan untuk meminyaki mayyit)."


Selengkapnya Shahih Bukhari no. 5809

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْأَنْصَارِيُّ قَالَ حَدَّثَنِي أَبِي عَنْ ثُمَامَةَ عَنْ أَنَسٍ أَنَّ أُمَّ سُلَيْمٍ كَانَتْ تَبْسُطُ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نِطَعًا فَيَقِيلُ عِنْدَهَا عَلَى ذَلِكَ النِّطَعِ قَالَ فَإِذَا نَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخَذَتْ مِنْ عَرَقِهِ وَشَعَرِهِ فَجَمَعَتْهُ فِي قَارُورَةٍ ثُمَّ جَمَعَتْهُ فِي سُكٍّ قَالَ فَلَمَّا حَضَرَ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ الْوَفَاةُ أَوْصَى إِلَيَّ أَنْ يُجْعَلَ فِي حَنُوطِهِ مِنْ ذَلِكَ السُّكِّ قَالَ فَجُعِلَ فِي حَنُوطِهِ
Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa'd telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdullah Al Anshari dia berkata; telah menceritakan kepadaku Ayahku dari Tsumamah dari Anas bahwa Ummu Sulaim, bahwa dia biasa membentangkan tikar dari kulit untuk Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, lalu beliau istirahat siang di atas tikar tersebut, Anas melanjutkan; "Apabila Nabi shallallahu 'alaihi wasallam telah tidur, maka Ummu Sulaim mengambil keringat dan rambutnya yang terjatuh dan meletakkannya di wadah kaca, setelah itu ia mengumpulkannya di sukk (ramuan minyak wangi), Tsumamah berkata; 'Ketika Anas bin Malik hendak meninggal dunia, maka dia berwasiat supaya ramuan tersebut dicampurkan ke dalam hanuth (ramuan yang digunakan untuk meminyaki mayyit), akhirnya ramuan tersebut diletakkan di hanuth (ramuan yang digunakan untuk meminyaki mayyit)."

Menurut Sekte Teroris Salafi Wahabi Tanduk Setan An-Najdi, apa yang dilakukan sahabat tersebut adalah Syirik. Tapi Para Ulama Ahlussunnah Waljama'ah sepakat bahwa yang spt itu adalah bentuk tabarruk yang dibolehkan.

Shahih Muslim no. 4301


و حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ رَافِعٍ حَدَّثَنَا حُجَيْنُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ وَهُوَ ابْنُ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ إِسْحَقَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي طَلْحَةَ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدْخُلُ بَيْتَ أُمِّ سُلَيْمٍ فَيَنَامُ عَلَى فِرَاشِهَا وَلَيْسَتْ فِيهِ قَالَ فَجَاءَ ذَاتَ يَوْمٍ فَنَامَ عَلَى فِرَاشِهَا فَأُتِيَتْ فَقِيلَ لَهَا هَذَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَامَ فِي بَيْتِكِ عَلَى فِرَاشِكِ قَالَ فَجَاءَتْ وَقَدْ عَرِقَ وَاسْتَنْقَعَ عَرَقُهُ عَلَى قِطْعَةِ أَدِيمٍ عَلَى الْفِرَاشِ فَفَتَحَتْ عَتِيدَتَهَا فَجَعَلَتْ تُنَشِّفُ ذَلِكَ الْعَرَقَ فَتَعْصِرُهُ فِي قَوَارِيرِهَا فَفَزِعَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ مَا تَصْنَعِينَ يَا أُمَّ سُلَيْمٍ فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ نَرْجُو بَرَكَتَهُ لِصِبْيَانِنَا قَالَ أَصَبْتِ

Dan telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Rafi'; Telah menceritakan kepada kami Hujain bin Al Mutsanna; Telah menceritakan kepada kami 'Abdul 'Aziz yaitu Ibnu Abu Salamah dari Ishaq bin 'Abdillah bin Abu Thalhah dari Anas bin Malik dia berkata; "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah berkunjung ke rumah Ummu Sulaim. Lalu beliau tidur di atas tempat tidur Ummu Sulaim, ketika ia sedang tidak berada di rumah. Anas berkata; 'Pada suatu hari, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam datang ke rumah kami dan tidur di atas tempat tidur Ummu Sulaim. Kemudian Ummu Sulaim disuruh pulang dan diberitahu bahwasannya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam shallallahu 'alaihi wasallam sedang tidur di atas tempat tidurnya. Anas berkata; 'Ketika Ummu Sulaim tiba di rumah, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam telah berkeringat, dan keringat beliau tergenang di tikar kulit di atas tempat tidur.' Maka Ummu Sulaim segera membuka tasnya dan segera mengusap keringat Rasulullah dengan sapu tangan dan memerasnya ke dalam sebuah botol. Tiba-tiba Nabi shallallahu 'alaihi wasallam terbangun dan terkejut seraya berkata; 'Apa yang kamu lakukan hai Ummu Sulaim? Ummu Sulaim menjawab; 'Ya Rasulullah, kami mengharapkan keberkahan keringat engkau untuk anak-anak kami. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Kamu benar hai Ummu Sulaim!"

 

Tawassul Khalifah Umar bin Khattab Alfaruq (doa bid'ah hasanah)

Ya Allah, kami meminta hujan kepada-Mu dengan bertawassul dengan Nabi kami, kemudian Engkau menurunkan hujan kepada kami. Maka sekarang kami memohon kepada-Mu dengan bertawassul paman Nabi kami, maka turunkanlah hujan untuk kami.


(Shahih Bukhari, no. 954)


 حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ مُحَمَّدٍ قَالَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْأَنْصَارِيُّ قَالَ حَدَّثَنِي أَبِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُثَنَّى عَنْ ثُمَامَةَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَنَسٍ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ كَانَ إِذَا قَحَطُوا اسْتَسْقَى بِالْعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَقَالَ اللَّهُمَّ إِنَّا كُنَّا نَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِنَبِيِّنَا فَتَسْقِينَا وَإِنَّا نَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِعَمِّ نَبِيِّنَا فَاسْقِنَا قَالَ فَيُسْقَوْنَ

(Shahih Bukhari, no.3434, )


حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْأَنْصَارِيُّ حَدَّثَنِي أَبِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُثَنَّى عَنْ ثُمَامَةَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَنَسٍ عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ كَانَ إِذَا قَحَطُوا اسْتَسْقَى بِالْعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَقَالَ اللَّهُمَّ إِنَّا كُنَّا نَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِنَبِيِّنَا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَتَسْقِينَا وَإِنَّا نَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِعَمِّ نَبِيِّنَا فَاسْقِنَا قَالَ فَيُسْقَوْنَ

Telah bercerita kepada kami Al Hasan bin Muhammad telah bercerita kepada kami Muhammad bin 'Abdullah Al Anshariy telah bercerita kepadaku bapakku, 'Abdullah bin Al Mutsannaa dari Tsumamah bin 'Abdullah bin Anas dari Anas radliallahu 'anhu bahwa 'Umar bin Al Khaththab ketika mereka ditimpa musibah kekeringan dia meminta hujan dengan berwasilah kepada 'Abbas bin 'Abdul Muththalib seraya berdo'a; "ALLOOHUMMA INNAA KUNNA NATAWASSALU ILAIKA BIN ABIYYINAA MUHAMMAD SHALLALLAHU'ALAIHIWASALLAM FATASQIINAA WA-INNAA NATAWASSALU ILAIKA BI'AMMI NABIYYINAA FASQINAA" Ya Allah, kami dahulu pernah meminta hujan kepada-Mu dengan perantaraan Nabi kami kemudian Engkau menurunkan hujan kepada kami. Maka sekarang kami memohon kepada-Mu dengan perantaraan paman Nabi kami, maka turunkanlah hujan untuk kami". Anas berkata; "Kemudian turunlah hujan.