STRATEGI TAKFIR - PENGKAFIRAN SESAMA MUSLIM

1236417_10151578502497314_24787644_n

1. Tidak memerlukan konfrontasi langsung, pengerahan pasukan, alokasi dana besar serta kerugian jiwa seperti invansi militer.
2. Musuh aman dari kemarahan umat Islam. Karena aksi adu domba dilakukan di belakang layar dengan cara-cara rahasia. Takfiriah adalah jalan pintas musuh Islam untuk mengubah energi umat Islam menjadi kekuatan yang menikam dan membunuh umat Islam sendiri. Dengan maraknya takfiriah, umat Islam akan berlomba untuk saling bunuh sesama saudaranya sendiri.
3. Ikhtilaf dan pertikaian bermotif madzhab mudah dikesankan musuh Islam sebagai sesuatu yang prinsipil dalam agama. Akibatnya masyarakat awam yang kurang wawasan menganggap perselisihan ini sebagai ibadah suci dan kewajiban agama. Mereka justru bangga menyerang saudaranya sendiri karena dengan bertikai itu mereka merasa telah memenuhi kebutuhan spiritualnya.
4. Takfiriah mudah disebarluaskan. Ketika masyarakat sudah tercekam oleh suasana saling curiga dan tidak ada orang yang berupaya melakukan penanggulangan, maka takfiriah akan menjadi virus yang mudah menyebar dan bahkan menular secara merata dari genreasi ke generasi sehingga sulit disembuhkan.
Karakteristik ‘istimewa’ takfiriah inilah yg menyebabkan strategi keji dan licik ini sangat disukai oleh musuh-musuh Islam. Ironisnya, banyak kaum Muslimin yg terjebak dalam arus besar takfirisme ini.
(Diambil dari buku: Gerakan Takfiri: Bahayanya Bagi Islam dan Kaum Muslimin, karya S.M. Mousavi)
 _________________________________________
Judul asli dari beritaprotes.com
4 Alasan Musuh Islam Menyukai Strategi Takfiriah

Bukti Sahabat Rasulullah SAW, Hakim Syuraih dan Khalifah Ali adalah "Antek Yahudi"

Dalam kitab Subulus Salam, karya al-Shan’ani dikisahkan, suatu hari, Khalifah Ali bin Abi Thalib sedang berjalan-jalan di Kota Madinah. Ia memantau segala situasi dan kondisi masyarakat Madinah. Tak disangka, saat itu ia melihat seseorang sedang memakai baju besi.

Ali mengenali baju besi tersebut. Dirinya sangat yakin baju besi itu adalah miliknya yang telah hilang beberapa waktu sebelumnya saat Perang Shiffin.

Tanpa menunggu waktu, Khalifah Ali langsung mendatangi orang yang bersangkutan dan diketahui seorang Yahudi. Ali menyatakan baju besi itu adalah kepunyaannya.

Tentu saja kedatangan Khalifah Ali yang mendadak itu membuat si Yahudi ini kaget. “Baju besi ini kepunyaanku yang jatuh dari untaku (Awraq) saat Perang Shiffin,” kata Ali.

Si Yahudi menolak pernyataan Ali, dan ia pun mempertahankan baju besi yang dipegangnya dengan argumentasi yang meyakinkan. “Tidak, baju besi ini milikku,” kata dia.

Wahabi Tolak ISIS Ibarat Ibu Buang Anak Kandung


kitab wahabi isis I

Ditemukan Buku Rujukan Utama ISIS Di Suriah
nilah bukti akurat bahwa buku At-Tauhid, karya pendiri Wahabi, Muhammad bin Abdul Wahhab an-Najdi, telah disebarkan oleh ISIS di Aleppo, Suriah. Di sampul masing-masing buku tersebut tertulis Ad-Daulah Al-Islamiyyah Fil Al-’Iraq was Syam (ISIS), Wilayah Halab (Aleppo), daerah Al-Bab.
Masih adakah simpatisan ISIS di Indonesia yang coba-coba mengelak dengan mendasarkan klaimnya atas fatwa bohong mufti Wahabi Saudi bahwa ISIS merupakan musuh nomor satu mereka dan bukan bagian dari Wahabi? Bukankah dalam hal kebiadaban, kekejian, kebengisan dan keganasan, ISIS ini setali tiga uang alias serupa Wahabi pada awal berdirinya, saat dipimpin Muhammad bin Abdil Wahhab an-Najdi, ketika dia dan keluarganya sedang membangun dinasti Saud?
Mau membantah dengan cara apa lagi?
Inikah cara Ibu Wahabi tak mau akui anak keduanya ISIS kini, seperti penolakannya pada anak sulungnya, Al Qaeda, dulu?

Mengantar Jenazah Dengan LAA ILAAHA ILLALLAH

Umat Islam saat mengantarkan jenazah membaca dzikir-dzikir atau kalimat thayyibah "Laa Ilaaha Ilallah" untuk 'merahmati' saudara muslimnya yang meninggal dunia. Kebiasaan ini juga telah dilakukan oleh para ulama Ahli hadits sejak dahulu kala.

Al-Hafidz adz-Dzahabi dan al-Hafidz Ibnu Asakir didalam kitabnya menceritakan bagaimana para ulama hadits membacakan takbir dan tahlil sebagai bentuk menampakkan sunnah saat ada seorang ulama lainnya wafat.

Berikut yang ditulis didalam kitab keduanya:

تُوُفِّيَ شَيْخُنَا أَبُوْ مُحَمَّدٍ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنِ عُثْمَانَ بْنِ الْقَاسِمِ بْنِ مَعْرُوْفِ بْنِ أَبِي نَصْرٍ رَحِمَهُ اللهُ يَوْمَ اْلأَرْبِعَاءِ الثَّانِي مِنْ جُمَادَى الْآخِرَةِ بَعْدَ الظُّهْرِ مِنْ سَنَةِ عِشْرِيْنَ وَأَرْبَعِمِائَةٍ وَدُفِنَ يَوْمَ الْخَمِيْسِ بَعْدَ الظُّهْرِ وَلَمْ أَرَ جَنَازَةً كَانَتْ أَعْظَمَ مِنْهَا كَانَ بَيْنَ يَدَيْهِ جَمَاعَةٌ مِنْ أَصْحَابِ الْحَدِيْثِ يُهَلِّلُوْنَ وَيُكَبِّرُوْنَ وَيُظْهِرُوْنَ السُّنَّةَ وَحَضَرَ جَنَازَتَهُ جَمِيْعُ أَهْلِ الْبَلَدِ (سير أعلام النبلاء - ج 17 / ص 367 تاريخ دمشق - ج 35 / ص 103)
“Guru kami meninggal, yaitu Abu Muhammad bin Abdurrahman bin Utsman bin Qasim bin Ma’ruf bin Abi Nashr, rahimahullah, pada hari Rabu kedua bulan Jumada Akhir setelah Dzuhur, tahun 420 H, dimakamkan di hari Kamis setelah Dzuhur. Saya tidak melihat janazah yang lebih besar darinya. Di depan janazah ada banyak jamaah dari ulama Hadis, yang membaca Tahlil dan Takbir serta menampakkan sunah. Janazahnya dihadiri semua penduduk negeri” (Siyar A’lam an-Nubala 17/367 dan Tarikh Dimasyqi 35/103)
 

Oleh : Ustadz Muhammad Ma'ruf Khozin

Ngalap Berkah - Tabarruk Di Malam Isra' Mi'raj Yang Diajarkan Malaikat Jibril dan Rasulullah SAW

Di bawah pohon tempat dahulu Nabi Musa beristirahat setelah dikejar-kejar tentara fir'aun, Jibril memerintahkan Rasulullah SAW untuk melakukan shalat, dan Rasulullah SAW pun shalat.
Di gunung Thursina tempat Nabi Musa bercakap menerima kalam Allah, Jibril memerintahkan Rasulullah SAW untuk melakukan shalat, dan Rasulullah SAW pun shalat.
Di Baitul-Lahmi tempat Nabi Isa dilahirkan, Jibril memerintahkan Rasulullah SAW untuk melakukan shalat, dan Rasulullah SAW pun shalat.
-kutipan perjalanan isra' dari Masjid Al-Haram menuju Masjid Al-Aqsha -
by Habib Ahmad Bin Nauvel Bin Salim Bin Jindan, Majelis Rasulullah SAW
=======================================
Aqidah Ahlussunnah Wal Jama'ah = Mendatangi tempat-tempat yang pernah ditempati/didatangi oleh orang shaleh (bekas orang shaleh), kemudian beribadah dan berdoa disitu adalah sangat dianjurkan, sebagaimana Allah telah mengutus Jibril dan memerintahkan Rasulullah SAW untuk Shalat di tempat yang pernah menjadi tempat Nabi Musa dan Nabi Isa, padahal Nabi Muhammad SAW adalah paling mulianya Nabi dan Utusan Allah.
Yang seperti ini sering disebut Tabarruk atau Ngalap Berkah.
Namun sekte "firqah wahabi" sangat tidak suka dengan kebiasaan seperti itu, sehingga banyak tempat-tempat yang pernah dikunjungi orang shaleh yang dihancurkan. bahkan Gua Uhud yang pernah menjadi tempat istirahat dan persembunyian Rasulullah SAW dijadikan tempat pembuangan kotoran oleh mereka.

Gua Uhud Tetap Wangi Walaupun dijadikan Tempat Pembuangan Kotoran oleh Firqah Wahabi

Tabarruk Dengan Makam Orang Shalih Dalam Madzhab Hanbali

سَأَلْتُهُ عَنِ الرَّجُلِ يَمَسُّ مِنْبَرَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم وَيَتَبَرَّكُ بِمَسِّهِ وَيُقَبِّلُهُ وَيَفْعَلُ بِالْقَبْرِ مِثْلَ ذَلِكَ أَوْ نَحْوَ هَذَا يُرِيْدُ بِذَلِكَ التَّقَرُّبَ إِلىَ اللهِ جَلَّ وَعَزَّ فَقَالَ : لاَ بَأْسَ بِذَلِكَ

(3243) Aku bertanya kepada ayahanda, al-Imam Ahmad bin Hanbal, tentang seorang laki-laki mengusap mimbar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bermaksud tabarruk dengan mengusapnya itu, ia mencium mimbar itu, dan melakukan hal yang sama terhadap makam Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam atau yang seperti itu dengan maksud ber-taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah - jalla wa ‘azza. Beliau menjawab: “Boleh/tidak apa”. (Al-Imam Ahmad bin Hanbal, al-‘Ilal wa Ma’rifah al-Rijal, juz 2 halaman 492).


Meskipun Imam Ahmad membolehkan, namun sebagian mereka yang mengklaim sebagai pengikut Madzhab Imam Ahmad (madzhab resmi saudi arabia) tetap tidak setuju. Mereka menggunakan akal pikirannya sendiri.
Ulama' panutan Wahabi seperti Ibnu Taimiyah dan Bin Bazz mengkafirkan orang yang yang bertabarruk.
---------------------
bacaan kitab online:

dikutip dari:

Saat ini Tuhanmu Menghadap ke Arah Mana?

Muslimedianews.com ~ Suatu ketika, al-Imam Abu Hanifah an-Nu’man di datangi sekelompok orang yang tidak meyakini adanya Tuhan. Mereka mendatangi beliau dengan maksud hendak mengajak beliau untuk berdebat.

“Sejak kapan Tuhanmu ada?”, tanya salah seorang atheis.

“Allah Ada sebelum adanya sejarah dan waktu, Dia ada tanpa ada permulaan”, Jawab Imam Abu Hanifah.

Beliau melanjutkan; “Apa yang ada sebelum empat?”.

“tiga”, jawab mereka.

“Apa sebelum tiga?”.

“dua”, jawab mereka.

“apa sebelum dua?”.