Mengantar Jenazah Dengan LAA ILAAHA ILLALLAH

Umat Islam saat mengantarkan jenazah membaca dzikir-dzikir atau kalimat thayyibah "Laa Ilaaha Ilallah" untuk 'merahmati' saudara muslimnya yang meninggal dunia. Kebiasaan ini juga telah dilakukan oleh para ulama Ahli hadits sejak dahulu kala.

Al-Hafidz adz-Dzahabi dan al-Hafidz Ibnu Asakir didalam kitabnya menceritakan bagaimana para ulama hadits membacakan takbir dan tahlil sebagai bentuk menampakkan sunnah saat ada seorang ulama lainnya wafat.

Berikut yang ditulis didalam kitab keduanya:

تُوُفِّيَ شَيْخُنَا أَبُوْ مُحَمَّدٍ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنِ عُثْمَانَ بْنِ الْقَاسِمِ بْنِ مَعْرُوْفِ بْنِ أَبِي نَصْرٍ رَحِمَهُ اللهُ يَوْمَ اْلأَرْبِعَاءِ الثَّانِي مِنْ جُمَادَى الْآخِرَةِ بَعْدَ الظُّهْرِ مِنْ سَنَةِ عِشْرِيْنَ وَأَرْبَعِمِائَةٍ وَدُفِنَ يَوْمَ الْخَمِيْسِ بَعْدَ الظُّهْرِ وَلَمْ أَرَ جَنَازَةً كَانَتْ أَعْظَمَ مِنْهَا كَانَ بَيْنَ يَدَيْهِ جَمَاعَةٌ مِنْ أَصْحَابِ الْحَدِيْثِ يُهَلِّلُوْنَ وَيُكَبِّرُوْنَ وَيُظْهِرُوْنَ السُّنَّةَ وَحَضَرَ جَنَازَتَهُ جَمِيْعُ أَهْلِ الْبَلَدِ (سير أعلام النبلاء - ج 17 / ص 367 تاريخ دمشق - ج 35 / ص 103)
“Guru kami meninggal, yaitu Abu Muhammad bin Abdurrahman bin Utsman bin Qasim bin Ma’ruf bin Abi Nashr, rahimahullah, pada hari Rabu kedua bulan Jumada Akhir setelah Dzuhur, tahun 420 H, dimakamkan di hari Kamis setelah Dzuhur. Saya tidak melihat janazah yang lebih besar darinya. Di depan janazah ada banyak jamaah dari ulama Hadis, yang membaca Tahlil dan Takbir serta menampakkan sunah. Janazahnya dihadiri semua penduduk negeri” (Siyar A’lam an-Nubala 17/367 dan Tarikh Dimasyqi 35/103)
 

Oleh : Ustadz Muhammad Ma'ruf Khozin

Ngalap Berkah - Tabarruk Di Malam Isra' Mi'raj Yang Diajarkan Malaikat Jibril dan Rasulullah SAW

Di bawah pohon tempat dahulu Nabi Musa beristirahat setelah dikejar-kejar tentara fir'aun, Jibril memerintahkan Rasulullah SAW untuk melakukan shalat, dan Rasulullah SAW pun shalat.
Di gunung Thursina tempat Nabi Musa bercakap menerima kalam Allah, Jibril memerintahkan Rasulullah SAW untuk melakukan shalat, dan Rasulullah SAW pun shalat.
Di Baitul-Lahmi tempat Nabi Isa dilahirkan, Jibril memerintahkan Rasulullah SAW untuk melakukan shalat, dan Rasulullah SAW pun shalat.
-kutipan perjalanan isra' dari Masjid Al-Haram menuju Masjid Al-Aqsha -
by Habib Ahmad Bin Nauvel Bin Salim Bin Jindan, Majelis Rasulullah SAW
=======================================
Aqidah Ahlussunnah Wal Jama'ah = Mendatangi tempat-tempat yang pernah ditempati/didatangi oleh orang shaleh (bekas orang shaleh), kemudian beribadah dan berdoa disitu adalah sangat dianjurkan, sebagaimana Allah telah mengutus Jibril dan memerintahkan Rasulullah SAW untuk Shalat di tempat yang pernah menjadi tempat Nabi Musa dan Nabi Isa, padahal Nabi Muhammad SAW adalah paling mulianya Nabi dan Utusan Allah.
Yang seperti ini sering disebut Tabarruk atau Ngalap Berkah.
Namun sekte "firqah wahabi" sangat tidak suka dengan kebiasaan seperti itu, sehingga banyak tempat-tempat yang pernah dikunjungi orang shaleh yang dihancurkan. bahkan Gua Uhud yang pernah menjadi tempat istirahat dan persembunyian Rasulullah SAW dijadikan tempat pembuangan kotoran oleh mereka.

Gua Uhud Tetap Wangi Walaupun dijadikan Tempat Pembuangan Kotoran oleh Firqah Wahabi

Tabarruk Dengan Makam Orang Shalih Dalam Madzhab Hanbali

سَأَلْتُهُ عَنِ الرَّجُلِ يَمَسُّ مِنْبَرَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم وَيَتَبَرَّكُ بِمَسِّهِ وَيُقَبِّلُهُ وَيَفْعَلُ بِالْقَبْرِ مِثْلَ ذَلِكَ أَوْ نَحْوَ هَذَا يُرِيْدُ بِذَلِكَ التَّقَرُّبَ إِلىَ اللهِ جَلَّ وَعَزَّ فَقَالَ : لاَ بَأْسَ بِذَلِكَ

(3243) Aku bertanya kepada ayahanda, al-Imam Ahmad bin Hanbal, tentang seorang laki-laki mengusap mimbar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bermaksud tabarruk dengan mengusapnya itu, ia mencium mimbar itu, dan melakukan hal yang sama terhadap makam Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam atau yang seperti itu dengan maksud ber-taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah - jalla wa ‘azza. Beliau menjawab: “Boleh/tidak apa”. (Al-Imam Ahmad bin Hanbal, al-‘Ilal wa Ma’rifah al-Rijal, juz 2 halaman 492).


Meskipun Imam Ahmad membolehkan, namun sebagian mereka yang mengklaim sebagai pengikut Madzhab Imam Ahmad (madzhab resmi saudi arabia) tetap tidak setuju. Mereka menggunakan akal pikirannya sendiri.
Ulama' panutan Wahabi seperti Ibnu Taimiyah dan Bin Bazz mengkafirkan orang yang yang bertabarruk.
---------------------
bacaan kitab online:

dikutip dari:

Saat ini Tuhanmu Menghadap ke Arah Mana?

Muslimedianews.com ~ Suatu ketika, al-Imam Abu Hanifah an-Nu’man di datangi sekelompok orang yang tidak meyakini adanya Tuhan. Mereka mendatangi beliau dengan maksud hendak mengajak beliau untuk berdebat.

“Sejak kapan Tuhanmu ada?”, tanya salah seorang atheis.

“Allah Ada sebelum adanya sejarah dan waktu, Dia ada tanpa ada permulaan”, Jawab Imam Abu Hanifah.

Beliau melanjutkan; “Apa yang ada sebelum empat?”.

“tiga”, jawab mereka.

“Apa sebelum tiga?”.

“dua”, jawab mereka.

“apa sebelum dua?”.

Ketika Al-Habib Umar Bin Hafidz BSA Lebih Memilih Janda

Muslimedianews ~ Dikisahkan bahwa ketika al-Habib Umar bin Hafidz telah berusia 25 tahun dan sudah siap untuk menikah, Sang Guru yaitu al-Imam al-Habib Muhammad bin Abdullah al-Haddar pun memberikan tawaran kepada al-Habib Umar untuk menikah dengan salah satu putrinya.

Al-Habib Umar pun disuruh untuk memilih salah satu di antara dua putri Sang Guru. Pilihan pertama adalah putri beliau yang masih muda dan perawan. Dan pilihan kedua adalah putri beliau yang sudah berstatus janda. Tanpa pikir panjang, al-Habib Umar pun memilih putri gurunya itu yang sudah berstatus janda.

Ketika Sang Guru menanyakan apa yang menyebabkannya menentukan pilihan itu,

Rodja TV Takut Dengan Ust Muhammad Idrus Ramli

Muslimedianews.com ~  Belakangan ini jejaring sosial ramai soal ustadz Wahhabi bernama Firanda Andirja yang menyatakan kesiapannya untuk berdialog dengan ustadz Aswaja. (Baca: Firanda Andirja (Ustadz Wahhabi) Nyatakan Siap Dialog dengan Ustadz Aswaja dan baca juga :  Lanjut Firanda Versus Aswaja, Firanda Sewot Menuduh Ust Idrus Ramli Berdusta).

Bersedia Dialog, Asal Bukan Dengan Ust. Idrus Ramli
Ada sebuah kabar menarik terkait dengan Rodja TV dan pihak Aswaja. Menurut sumber yang dapat dipercaya, pada mulanya Rodja TV telah bersedia berdialog terbuka dengan pihak Aswaja, tapi mereka mengatakan asalkan bukan Ustadz Muhammad Idrus Ramli yang mewakili Aswaja.

Saat itu, ketika Rodja TV mengetahui kabar bahwa yang mewakili Aswaja adalah Ust Muhammad Idrus Ramli, maka Salafy-Wahhabi pun saling melempar sesama mereka untuk berhadapan dengan Ust. Idrus Ramli hingga tidak ada kejelasan mengenai hal tersebut. Terus berlarut-larut hingga saat ini.

Akhlak Seorang Ulama Terhadap yang Munyusahkan dan Memusuhinya

Muslimedianews ~ Dikisahkan oleh salah seorang guru kami, al-‘Allamah al-Habib Muhammad bin Alwi bin Shahab di masa penjajahan komunis terhadap Yaman, ada seorang yang bertugas membantu komunis yang sangat jahat kepada beliau. Sengaja selalu menyusahkan al-Habib Muhammad bin Alwi bin Shihab. Beliau disuruh olehnya menjadi tahanan kota, harus melapor setiap har. Kalau sudah lapor harus tulis dan ambil buku sendiri, semuanya serba dipersulit. Hingga akhirnya si petugas komunis tersebut jatuh sakit parah sampainya akhirnya wafat dan meninggal dunia.

Saudara dari petugas yang membantu komunis berpikir seraya bergumam: “Maunya saya sih yang menshalati jenazahnya adalah al-Habib Muhammad bin Alwi bin Shahab, tapi saya tahu nih, saya punya saudara sangat jahat sekali kepada al-Habib Muhammad bin Alwi. Apa al-Habib Muhammad bin Alwi mau?”

Maka datanglah ia ke rumah al-Habib Muhammad bin Alwi. Tatkala ia sampai di rumah al-Habib Muhammad bin Alwi ia ditanya:  “Wahai fulan, tidak biasanya engkau datang, apakah ada sesuatu yang terjadi?”

“Wahai Habib, saya punya saudara, kakak saya (si pengganggu itu) meninggal dunia. Saya memohon engkau untuk berkenan menshalatkannya.” Jawabnya.

“Ooh. Baik saya akan menshalatkannya. Dan bukan itu saja, saya akan datang ke rumahnya dulu untuk menshalatkan jenazahnya. Baru setelah itu mari sama-sama pergi untuk menshalatkannya di masjid.” Ucap al-Habib Muhammad bin Alwi.

Baru kali ini didengar olehnya jawaban sebegitu indah dari al-Habib Muhammad bin Alwi ini, padahal sebelumnya ia mengira al-Habib Muhammad tak akan berucap seperti itu. Baru saja ia akan berkata-kata, al-Habib Muhammad mendahului: “Stop, tunggu dulu sebentar!”

Lalu beliau masuk ke dalam untuk mengambil uang. Al-Habib Muhammad bin Alwi berkata kepadanya: “Ini uang, mungkin di rumah tidak ada apa-apa untuk mengurusi jenazahnya. Ini uang dari saya untuk membantu.”

Coba lihat, tidak ada kesombongan, tidak ada ujub, tidak ada kebencian dan tidak ada sedikitpun sifat hasud di hati al-Habib Muhammad bin Alwi bin Shahab. (Kutipan taushiyah al-Habib Umar bin Hafidz yang diterjemahkan oleh al-Habib Jindan bin Novel bin Jindan).

Ket. foto: Al-Habib Abdullah bin Muhammad bin Alwi bin Shahab bersama Al-Habib Umar bin Hafidz.

Sya’roni As-Samfuriy, Cilangkap Jaktim 10 Desember 2013