Showing posts with label Adab. Show all posts
Showing posts with label Adab. Show all posts

Akhlak Seorang Ulama Terhadap yang Munyusahkan dan Memusuhinya

Muslimedianews ~ Dikisahkan oleh salah seorang guru kami, al-‘Allamah al-Habib Muhammad bin Alwi bin Shahab di masa penjajahan komunis terhadap Yaman, ada seorang yang bertugas membantu komunis yang sangat jahat kepada beliau. Sengaja selalu menyusahkan al-Habib Muhammad bin Alwi bin Shihab. Beliau disuruh olehnya menjadi tahanan kota, harus melapor setiap har. Kalau sudah lapor harus tulis dan ambil buku sendiri, semuanya serba dipersulit. Hingga akhirnya si petugas komunis tersebut jatuh sakit parah sampainya akhirnya wafat dan meninggal dunia.

Saudara dari petugas yang membantu komunis berpikir seraya bergumam: “Maunya saya sih yang menshalati jenazahnya adalah al-Habib Muhammad bin Alwi bin Shahab, tapi saya tahu nih, saya punya saudara sangat jahat sekali kepada al-Habib Muhammad bin Alwi. Apa al-Habib Muhammad bin Alwi mau?”

Maka datanglah ia ke rumah al-Habib Muhammad bin Alwi. Tatkala ia sampai di rumah al-Habib Muhammad bin Alwi ia ditanya:  “Wahai fulan, tidak biasanya engkau datang, apakah ada sesuatu yang terjadi?”

“Wahai Habib, saya punya saudara, kakak saya (si pengganggu itu) meninggal dunia. Saya memohon engkau untuk berkenan menshalatkannya.” Jawabnya.

“Ooh. Baik saya akan menshalatkannya. Dan bukan itu saja, saya akan datang ke rumahnya dulu untuk menshalatkan jenazahnya. Baru setelah itu mari sama-sama pergi untuk menshalatkannya di masjid.” Ucap al-Habib Muhammad bin Alwi.

Baru kali ini didengar olehnya jawaban sebegitu indah dari al-Habib Muhammad bin Alwi ini, padahal sebelumnya ia mengira al-Habib Muhammad tak akan berucap seperti itu. Baru saja ia akan berkata-kata, al-Habib Muhammad mendahului: “Stop, tunggu dulu sebentar!”

Lalu beliau masuk ke dalam untuk mengambil uang. Al-Habib Muhammad bin Alwi berkata kepadanya: “Ini uang, mungkin di rumah tidak ada apa-apa untuk mengurusi jenazahnya. Ini uang dari saya untuk membantu.”

Coba lihat, tidak ada kesombongan, tidak ada ujub, tidak ada kebencian dan tidak ada sedikitpun sifat hasud di hati al-Habib Muhammad bin Alwi bin Shahab. (Kutipan taushiyah al-Habib Umar bin Hafidz yang diterjemahkan oleh al-Habib Jindan bin Novel bin Jindan).

Ket. foto: Al-Habib Abdullah bin Muhammad bin Alwi bin Shahab bersama Al-Habib Umar bin Hafidz.

Sya’roni As-Samfuriy, Cilangkap Jaktim 10 Desember 2013

Ngalap Berkah Dengan Berkunjung ke Saudara Sesama Muslim (ibnu majah 1432)

Telah menceritakan kepada kami Utsman bin Abu Syaibah berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah berkata, telah menceritakan kepada kami Al A'masy dari Al Hakam dari 'Abdurrahman bin Abu Laila dari Ali ia berkata, "Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa mengunjungi saudaranya sesama muslim maka seakan ia berjalan di bawah pepohonan surga hingga ia duduk, jika telah duduk maka rahmat akan melingkupinya. Jika mengunjunginya di waktu pagi, maka tujuh puluh ribu malaikat akan bershalawat kepadanya hingga sore hari, dan jika ia mengunjunginya di waktu sore, maka tujuh puluh ribu malaikat akan bershalawat kepadanya hingga pagi hari. " (Sunan Ibnu Majah 1432)

Saudara... Kita Bersaudara

Dan diantara peninggalan tradisi-tradisi jahiliyah adalah kebanggaan kesukuan/kelompok.
Ketika orang-orang Anshar Madinah yang terdiri dari suku Aus dan Khazraj saling ejek bahkan sampai hampir akan terjadi pertumpahan darah sebagaimana telah pernah terjadi di masa sebelum mereka memeluk islam, Rasulullah pun marah dan mengancam pergi meninggalkan Madinah.

Apakah kalian akan kembali ke ke'jahiliyah'an setelah kalian bersaksi tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad utusan Allah?
Sesungguhnya orang-orang beriman bersaudara dan tidaklah dikatakan beriman seseorang sehingga ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri.

Umar Bin Khattab Vs Abu Bakar As-Shiddiq

Di sebuah rumah kecil, hidup seorang nenek buta yang memiliki seekor kambing, sebuah ember dan tikar yang sudah usang. Melihat keadaannya yang sangat menyedihkan, Umar bin Khattab berjanji kepadanya untuk datang setiap saat membantu membersihkan rumahnya, memeras susu kambing dan membawa makanan baginya.

Satu hari sebagaimana biasa Umar bin Khattab datang ke rumah nenek buta itu, tapi hari itu sangat berbeda dengan hari kemaren, beliau mendapati rumah nenek itu sudah rapi, bersih, susu kambing sudah diperas dan makanan sudah tersedia. Beliau sangat heran siapa gerangan yang datang membantu ke rumah nenek itu?.

Hari berikutnya beliau datang lagi ke rumahnya. Begitu pula beliau dapatkan rumahnya sudah rapi, bersih, susu kambing sudah diperas dan makanan sudah tersedia. Timbul penasaran di hati Sy. Umar r.a.untuk mencari tahu siapa gerangan yang datang membantu nenek tua tsb.

Hari berikutnya beliau datang ke rumah nenek buta tsb pagi-pagi sekali. Hari itu berbeda dengan hari biasanya, beliau tidak masuk ke rumah nenek tsb, tetapi duduk di luar rumah menunggu siapa gerangan yang datang ke rumahnya setiap hari.  Tiba tiba seorang datang mengetuk pintu rumah nenek buta tsb dan masuk ke dalam rumah. Orang itu adalah Abu Bakar Shiddik r.a. Pada saat itu Abu Bakar menjabat sebagai khalifah.

Setelah Umar r.a. mengetahui kejadian itu, beliau kembali pulang dan di hati beliau tersimpan kesan indah dan pujian terhadap perbuatan dan kemurahan hati khalifah Abu Bakar r.a. yang selalu mendahuluinya dalam segala kebaikan.



by Hasan Husen Assagaf

Menunggu Kebaikan Adalah Kebaikan



قال رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : لَا يَزَالُ الْعَبْدُ فِي صَلَاةٍ مَا كَانَ فِي الْمَسْجِدِ يَنْتَظِرُ الصَّلَاةَ مَا لَمْ يُحْدِثْ.
(صحيح البخاري)
Sabda Rasulullah SAW: “Seorang hamba masih tetap dalam (pahala) shalat selama ia di masjid menunggu shalat, selama ia tidak batal wudhu” (Shahih Bukhari)

Disebutkan dalam riwayat lain dalam Shahih Al Bukhari bahwa suatu waktu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar di pertengahan malam, dan di saat itu beliau shallallahu ‘alaihi wasallam mendapati para sahabat menunggu kedatangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk melakukan shalat bersama beliau shallallahu ‘alaihi wasallam,, maka ketika itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Sungguh kalian masih terhitung dalam pahala melakukan shalat sebab menunggu waktu dilakukan shalat“.

Disebutkan juga dalam riwayat lain dalam Shahih Al Bukhari dimana ketika sayyidina Bilal telah mengumandangkan adzan, dan para sahabat telah melakukan shalat sunnah qabliyah serta sayyidina Bilal telah siap untuk melantunkan iqamah shalat, namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika itu berdiri dan menemui seorang tamu yang datang keapda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dan berbicara dengan orang tersebut dalam waktu yang cukup lama. Maka Al Imam Asqalani menjelaskan bahwa hal tersebut menunjukkan diperbolehkannya menunda waktu pelaksanaan shalat dari waktu adzan ketika disibukkan dengan hal-hal yang bersifat akhirat seperti ta’lim, sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat menunggu beliau shallallahu ‘alaihi wasallam untuk melakukan shalat bersama mereka.

Dan ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar di pertengahan malam, dan mendapati para sahabat sedang menunggu beliau untuk melakukan shalat jamaah, maka beliau shallallahu ‘alaihi wasallam berkata : “Sungguh kalian masih terhitung dalam pahala melakukan shalat sebab menunggu waktu dilakukan shalat”.

Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wasalla bersabda bahwa 100 tahun yang akan datang tidak akan ada yang hidup diantara mereka yang ada di malam itu. Begitu pula kita semua yang hadir di malam ini apakah 100 tahun yang akan datang kita masih ada di dunia ini atau kita semua telah dianggil oleh Allah subhanahu wata’ala dan kembali ke alam barzakh.

Dan tentunya kita selalu berdoa semoga Allah subhanahu wata’ala memanjangkan usia kita dalam rahmat dan keberkahan Allah subhanahu wata’ala. Maka selayaknya kita tanamkan dan bangkitkan sifat sabar untuk menanti dalam hal kebaikan, sebagaimana menunggu waktu shalat juga terhitung dalam pahala melakukan shalat. Al Imam Hasan berkata : “Menunggu kebaikan adalah kebaikan”, seperti halnya seseorang yang tiba di mejelis di awal waktu dan acara belum dimulai maka ia terhitung dalam pahala menghadiri majelis, terlebih lagi seseorang yang selalu ada dalam dirinya penantian untuk berjumpa dengan Allah subhanahu wata’ala, maka setiap detik dari waktu-waktunya terhitung dalam kemuliaan yaitu menanti perjumpaan dengan Allah subhanahu wata’ala. Dikatakan oleh guru mulia Al Habib Umar bin Hafizh bahwa kesabaran mempunyai banyak macam yang diantaranya sabar atas hal yang tidak kita inginkan, dan sabar atas hal yang kita inginkan namun belum tercapai. Sebagaimana kehidupan kita ini dipenuhi oleh hal-hal yang tidak kita inginkan, begitu juga dipenuhi dengan hal-hal yang kita inginkan namun belum terjadi.

Demikianlah kehidupan di siang dan malam kita yang selalu membutuhkan kesabaran, namun manusia terkadang memiliki batas kemampuan kesabaran maka satu-satunya hal yang harus selalu dilakukan adalah berdoa kepada Allah subhanahu wata’ala, dimana Allah subhanahu wata’ala Maha Mampu merubah setiap kejadian dan ketentuan-ketentuan, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
لَا يَرُدُّ الْقَضَاءَ إِلاَّّ الدُّعَاءُ
“ Tidak ada yang dapat merubah qadha’ (keputusan Allah) kecuali doa”
Doa seorang hamba kepada Allah subhanahu wata’ala dapat menjadikannya dikasihani oleh Allah subhanahu wata’ala. Sungguh Allah tidak membutuhkan hamba-hambaNya, mereka yang baik atau pun mereka yang jahat, sebagaimana firmanNya dalam hadits qudsi :

ياَ عِبَادِيْ إِنَّكُمْ لَنْ تَبْلُغُوْا ضُرِّيْ فَتَضُرُّوْنِيْ وَلَنْ تَبْلُغُوْا نَفْعِيْ فَتَنْفَعُوْنِيْ يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَتقى قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَازَادَ ذلِكَ فِي مُلْكِيْ شَيْئًا، يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَفجر قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا نَقَصَ ذلِكَ مِنْ مُلْكِي شَيْئًا

“Wahai hamba-hambaKu, sesungguhnya perbuatan buruk kalian kepadaKu tidaklah merugikanKu, dan perbuatan baik kalian kepadaKu tidaklah bermanfaat untukKu. Wahai hamba-hambaKu seandainya orang yang pertama dan terakhir dari kamu, jin dan manusia dari kalangan kalian berada pada hati seseorang yang paling taqwa diantara kalian, hal itu tidak menambah kerajaanKu sedikit pun. Wahai hamba-hambaKu, seandainya orang yang pertama dan yang terakhir dari kalian, manusia dan jin dari kalangan kalian berada pada hati orang yang paling jahat dari kalian niscaya hal itu tidaklah mengurangi kerajaanKu barang sedikitpun.”
Maka perbanyaklah doa dan munajat, yang mana hal itu dapat merubah masa depan kehidupan kita menjadi lebih baik dan lebih cerah di dunia dan akhirat dengan kehendak Allah subhanahu wata’ala. Disebutkan bahwa sayyidina Ali Zainal Abidin As Sajjad, beliau disebut As Sajjad karena dalam setiap malamnya ia melakukan shalat sebanyak 1000 sujud. Disebutkan dalam kitab Al Ghurar bahwa Al Imam Thawus Ar mengatakan bahwa suatu waktu di sepertiga malam ketika ia mendekati maqam Ibrahim untuk melakukan shalat disana, namun ia mendapati seseorang yang terus menerus melakukan shalat di tempat hingga mendekati waktu Subuh kemudian ia berhenti melakukan shalat dan berdoa, dengan doa berikut yang di ulang-ulang :
عَبْدُكَ بِفِنَائِكَ، مِسْكِيْنُكَ بِفِنَائِكَ، فَقِيْرُكَ بِفِنَائِكَ، سَائِلُكَ بفنائك
“ HambaMu di halamanMu (dihadapanMu), hambaMu yang miskin di hadapanMu, hambaMu yang faqir di hadapanMu, hambaMu pengemis dihadapanMu”
Dan orang tersebut adalah sayyidina Ali Zainal Abidin. Kemudian Al Imam Thawus berkata : “Tidaklah aku membaca doa tersebut dan aku berada dalam kesulitan kecuali kesulitan tersebut disingkirkan oleh Allah subhanahu wata’ala”. Demikianlah doa yang sangat agung yang dilantunkan oleh sayyidina Ali Zainal Abidin As Sajjad, begitu pula didikan beliau kepada keturunan beliau yaitu Al Imam Muhammad Al Baqir, dimana sebagaimana yan disampaikan oleh putranya : “Ayahku ketika berdoa di malam hari ia berkata :
اَللَّهُمَّ أَمَرْتَنِيْ فَلَمْ أَأْتَمِرْ وَنَهَيْتَنِيْ فَلَمْ أَنْزَجر، هَا أناَ عَبْدُكَ بَيْنَ يَدَيْكَ مُذْنِبٌ مُخْطِئٌ مُقِرٌّ بِذَنْبِيْ فَلاَ أَعْتَذِرْ
“ Wahai Allah, Engkau telah memberiku perintah namun tidak aku kerjakan, dan Engkau memberiku larangan namun tidak aku tinggalkan, inilah aku hambaMu dihadapanMu dalam keadaan berdosa dan bersalah serta mengakui akan dosaku dan tidak menutupinya dengan alasan apapun”


dikutip dari: majelisrasulullah.org

Inilah Jurus Rasulullah Melawan Musuh Yang Wajib Dicontoh Agar Umat Islam Menang!

Pada saat Perang Uhud, kaum Muslim banyak yang gugur, bahkan wajah Rasulullah terluka tersayat pedang. Darah bercucuran dan satu gigi beliau tanggal terkena tombak musuh.

Pada saat itu, ada sebagian sahabat yang berkata, “Ya Rasulullah, berdoalah untuk kebinasaan orang-orang musyrik.”

Dengan suara lirih menahan rasa sakit, beliau menjawab, “Tidak, aku bukan tukang laknat. Sesungguhnya aku diutus sebagai pembawa rahmat.” (HR Muslim)

Ketika Rasulullah berdakwah di Thaif, beliau disambut dengan lemparan batu. Akibatnya, sekujur tubuhnya bersimbah darah. Beliau berjalan tertatih-tatih menyeret kakinya yang penuh darah dan berlindung di kebun anggur milik Utbah dan Saibah bin Rabi'ah.

Malaikat Jibril merasa iba menyaksikan penderitaan kekasih Allah yang telah dinista. Kemudian Jibril berbisik, “Ya Rasulullah, sesungguhnya Allah sudah mendengar apa yang dikatakan kaummu kepadamu dan apa yang mereka lakukan terhadap dirimu. Allah telah mengutus malaikat penjaga gunung. Agar engkau memerintahkan sesuatu menurut apa yang kau kehendaki.”

Beliau bersabda, “Sungguh, aku berharap bahwa kelak Allah akan mengeluarkan dari mereka anak-anak yang menyembah Allah dan tidak pernah mempersekutukannya.” (HR Bukhari-Muslim)

Betapa berat penderitaan Rasulullah di Thaif. Penderitaan itu terasa sangat menyakitkan, bahkan lebih berat dari yang dialami beliau sewaktu Perang Uhud. Namun, beliau tetap memperlakukan mereka yang telah menganiayanya dengan penuh kesabaran dan kasih sayang.

Peristiwa lain yang sangat spektakuler adalah ketika Rasulullah bersama kaum Muslim memasuki Kota Makkah dan meraih kemenangan (Fathu Makkah). Kaum Quraisy yang telah menganiaya dan membunuh kaum Muslim, hatinya terasa kecut karena takut akan pembalasan Rasulullah.

Namun, Rasul memahami kegelisahan dan kegundahan mereka. Beliau bersabda, “Aku akan mengucapkan apa yang diucapkan oleh saudaraku Yusuf bahwa pada hari ini tidak ada cercaan terhadap kamu, mudah-mudahan Allah mengampunimu.” (QS Yusuf: 92).

Berbagai peristiwa yang dialami Rasulullah bukan saja sebuah keteladanan tentang pemaafan dan kebesaran jiwa yang agung, melainkan sebuah pelajaran bagi kita bahwa menyampaikan kebenaran harus diiringi dengan sikap lemah lembut, penuh kasih sayang, dan menjauhi sikap kasar.

“Maka, disebabkan rahmat Allah, kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras dan kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka...” (QS Ali Imran [3]: 159).

Karena keagungan akhlak Rasulullah itu pula, beliau mendapat dua gelar dari Asma Allah, yakni Ro'ufur Rahim, yang berarti penyantun dan penyayang. (QS at-Taubah [9]:128 ).

Sifat pemaaf, penyayang, dan bersikap lemah lembut adalah mutiara akhlak setiap pribadi Muslim. Ibaratnya, bila ada rombongan yang membenci dan dendam datang untuk menginap, seorang Muslim itu akan berkata, “Maaf Tuan, kamar hatiku telah penuh dengan tamu-tamu cinta, tidak ada lagi ruangan kosong yang tersedia di kamar hatiku.” Inilah sikap seorang Muslim yang tidak lain hanyalah menghasilkan untaian cinta. Wallahu a'lam.
*KH Toto Tasmara* 

Jurus Rasulullah Digunakan Oleh Jokowi!




Bila membaca Kitab-kitab Sirah Nabawiyah dan sejarah Rasulullah yang diceritakan oleh Guru-guru, Kiai-kiai dan para Habaib sangat jelas bahwa hampir 100% Sahabat-sahabat Rasulullah yang sangat setia kepada Rasulullah, yang membela dan melindungi Rasulullah meskipun dengan mempertaruhkan nyawa, yang paling dalam cintanya kepada Rasulullah... mereka hampir 100% adalah mantan-mantan musuh Rasulullah, orang-orang yang awalnya memusuhi Rasulullah dengan hinaan, hujatan, caci maki bahkan dengan ancaman pembunuhan terhadap Rasulullah.

Kok bisa, apa rahasianya?
Rahasianya adalah bukan rahasia
Hanya sebuah "jurus" yang sangat jelas termaktub dalam Alqur'an.
"berbuat baiklah kepada orang yang tidak menyukaimu, yang memusuhimu"

Dan jurus ini kemaren dipraktekkan di Situ Babakan.
Bukan rahasia lagi awalnya mayoritas masyarakat betawi tidak menyukai Jokowi.
Namun setelah menjadi gubernur Jokowi menunjukkan perhatiannya kepada Tokoh-tokoh dan masyarakat betawi.

Tidak sembarang orang bisa mempraktekkan jurus ini. Mereka yang hatinya diliputi dendam, iri dengki, dan tidak memiliki sense of silaturrahmi tidak akan mampu melakukan jurus ini.










Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka (lihatlah) tiba-tiba orang yang tadinya memusuhimu (kemudian) seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.(Aqur'an, Fushilat ayat 34)





Imam Ja'far Shadiq Imamnya Para Imam Madzhab

“Berbuat baiklah kepada orang yang memutus tali silaturrahmi denganmu, berilah orang yang enggan memberimu, berbuat baiklah kepada orang yang berbuat jahat kepadamu, ucapkanlah salam kepada orang yang mencelamu, berbuat adil-lah kepada orang yang memusuhimu, maafkanlah orang yang menzalimimu sebagaimana engkau juga ingin diperbuat demikian. Ambillah pelajaran dari maha pengampunnya Allah yang telah mengampunimu. Apakah engkau tidak melihat matahari-Nya menyinari orang yang baik dan orang yang jahat? dan air hujan-Nya turun kepada orang-orang yang shaleh dan berdosa?” (Imam Ja'far Shadiq)
___________________________________

Imam Ja'far Shadiq adalah Imam Generasi Tabi'in, beliau adalah keturunan Rasulullah dan merupakan guru dari para Imam Madzhab, Karena:

(1) Imam Abu Hanifah (madzhab Hanafi) dari generasi Tabi'in adalah murid Imam Ja'far Shadiq. Setelah Wafatnya Imam Ja'far Shadiq Imam Abu Hanifah berkata: "seandainya aku tidak bertemu (berguru) pada Imam Ja'far Shadiq, maka celakalah aku"
(2) Imam Malik (Madzhab Maliki) dari generasi Tabi'ittabi'in, selain berguru kepada Imam Abu Hanifah beliau juga berguru kepada Imam Jaf'far Shadiq. Imam Malik pernah berkata: tidak ada yang lebih faqih dan lebih berilmu dari Imam Ja'far. Imam Malik ketika bershalawat selalu menggunakan shalawat khusus untuk keturunan Rasulullah, Ya Allah limpahkanlah shalawat kepada Rasulullah, untuk keluarga serta keturunan Rasulullah.
(3) Imam Syafi'i (Madzhab Syafi'i) dari generasi Tabi'ittabi'in adalah Murid Imam Malik yang sanadnya tersambung dengan Imam Ja'far. Tentang keturunan Rasulullah (ahli bait) Imam Syafi'i berkata: "aku tidak peduli perkataan orang2, kalau karena cintaku yang mendalam kepada keturunan Rasulullah lalu aku dicap syiah/rafidhah, biarlah aku dituduh Rafidhah"
(4) Imam Ahmad (Madzhab Hanbali) adalah generasi setelah Tabi'ittabi'in adalah Murid Imam Syafi'i.

Imam Ahmad meriwayatkan hadits dalam Musnadnya, Rasulullah berkata:
"Aku tinggalkan untuk kalian dua pusaka; (1)Kitabullah..., dan (2)ahli baitku. Keduanya tidak akan terpisah hingga keduanya menemuiku di telaga." (Musnad Imam Ahmad hadits no. 20596)

Hadits ini mempertegas bahwa Ahlu Bait Rasulullah kedudukannya menempati kedudukan Sunnah karena di Hadits Lain Rasulullah berkata:
"telah aku tinggalkan pada kalian dua perkara. tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, (yaitu) Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya"

                                  jadi, Sunnah = Ahlu Bait

::Muslim indonesia mayoritas pengikut keluarga Rasulullah::
Di Indonesia mayoritas muslim mengikuti Madzhab Imam Syafi'i yang disebarkan oleh keturunan-keturunan Rasulullah, Para Wali Songo selain sunan Kalijaga adalah keturunan Imam Ja'far Shadiq, keturunan Rasulullah. Begitu juga pondok pesantren besar di indonesia mayoritas didirikan oleh keturunan Imam Ja'far Shadiq, keturunan Rasulullah.

::Kewajiban Bermadzhab::

Mungkin ada pertanyaan dibenak kita, kenapa selama Ribuan Tahun mayoritas muslim bermadzhab, setiap Daulah kekuasaan Islam Baik daulah umayyah, abbasiyah, dan lainnya selalu bermadzhab? kenapa selama ribuan Tahun banyak lahir Ulama'-ulama' besar islam tapi ulama'-ulama' besar tersebut masih mengikuti Madzhab Hanafi, Maliki, Syafi'i? Bahkan Imam Bukhari dan Imam Muslim juga bermadzhab Syafi'i? kenapa para Ulama' tersebut tidak memahami Alqur'an dan Sunnah sesuai pemahamannya sendiri saja?

::Kewajiban untuk mengikuti Alqur'an dan As-sunnah sesuai pemahaman Imam Tabi'in dan Tabi'ittabi'in (Imam Madzhab)::
Rasulullah berkata:
Aku mewasiatkan kepada kalian untuk (mengikuti) sahabatku, kemudian orang-orang yang mengikuti mereka (tabi'in), kemudian orang-orang yang mengiringi mereka (tabi'ittabi'in).

Mengikuti (bermadzhab) dengan Madzhab tabi'in dan Tabi'ittabi'in adalah perintah Rasulullah, mengikuti Ahlu Bait (sebagaimana telah dipraktekkan oleh imam-imam Madzhab) juga perintah Rasulullah. Inilah Alasan mereka dari Ulama-ulama besar terdahulu tetap bermadzhab kepada Imam Tabi'in dan Tabi'ittabi'in dan menjadi Pencinta Keluarga Rasulullah.

Allahumma Shalli Alaa Sayyidina Muhammad Wa'ala Alihi Washahbihi Wasallim
اللهم صل على سيدنا محمد وعلى اله وصحبه وسلم 






Hadits Shahih Bukhari: Para Sahabat Berebut Tangan Nabi SAW Sehabis Shalat & Pujian Kpd Beliau

kok masih ada orang bilang jabat tangan habis shalat itu bid’ah dan haram,mencium tangan beliau juga haram…
عَنْ الْحَكَمِ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا جُحَيْفَةَ قَالَ خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْهَاجِرَةِ إِلَى الْبَطْحَاءِ فَتَوَضَّأَ ثُمَّ صَلَّى الظُّهْرَ رَكْعَتَيْنِ وَالْعَصْرَ رَكْعَتَيْنِ وَبَيْنَ يَدَيْهِ عَنَزَةٌ قَالَ شُعْبَةُ وَزَادَ فِيهِ عَوْنٌ عَنْ أَبِيهِ أَبِي جُحَيْفَةَ قَالَ
كَانَ يَمُرُّ مِنْ وَرَائِهَا الْمَرْأَةُ وَقَامَ النَّاسُ فَجَعَلُوا يَأْخُذُونَ يَدَيْهِ فَيَمْسَحُونَ بِهَا وُجُوهَهُمْ قَالَ فَأَخَذْتُ بِيَدِهِ  وَضَعْتُهَا عَلَى وَجْهِي فَإِذَا هِيَ أَبْرَدُ مِنْ الثَّلْجِ وَأَطْيَبُ رَائِحَةً مِنْ الْمِسْكِِ
dari al Hakam ,aku mendengar abu juhaifah berkata :Suatu hari Nabi saw pergi di siang hari ke sebuah padang pasir maka beliau berwudhu dan melakukan shalat dzhuhur 2 raka’at ashar 2 raka’at sementara di depat beliau terdapat tongkat. Syu’bah berkata : ‘Aun menambahkan dari ayahnya ya’ni Abi Juhaifah ia berkata: para wanita lewat dari belakang tongkat itu kemudian orang-orang berdiri dan bergegas mengambil tangan beliau saw (bersalaman) dan mereka mengusapkan tangan beliau ke muka-muka mereka, Abu juhaifah berkata:kemudian aku ambil kedua tangan beliau dan aku letakkan di atas mukaku ternyata tangan beliau lebih sejuk daripada air salju dan lebih harum dibandingkan aroma misik (kasturi))

Shahih Bukhari, Hadits No 3289
حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ مَنْصُورٍ أَبُو عَلِيٍّ حَدَّثَنَا حَجَّاجُ بْنُ مُحَمَّدٍ الْأَعْوَرُ بِالْمَصِّيصَةِ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ الْحَكَمِ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا جُحَيْفَةَ قَالَ خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْهَاجِرَةِ إِلَى الْبَطْحَاءِ فَتَوَضَّأَ ثُمَّ صَلَّى الظُّهْرَ رَكْعَتَيْنِ وَالْعَصْرَ رَكْعَتَيْنِ وَبَيْنَ يَدَيْهِ عَنَزَةٌ قَالَ شُعْبَةُ وَزَادَ فِيهِ عَوْنٌ عَنْ أَبِيهِ أَبِي جُحَيْفَةَ قَالَ كَانَ يَمُرُّ مِنْ وَرَائِهَا الْمَرْأَةُ وَقَامَ النَّاسُ فَجَعَلُوا يَأْخُذُونَ يَدَيْهِ فَيَمْسَحُونَ بِهَا وُجُوهَهُمْ قَالَ فَأَخَذْتُ بِيَدِهِ فَوَضَعْتُهَا عَلَى وَجْهِي فَإِذَا هِيَ أَبْرَدُ مِنْ الثَّلْجِ وَأَطْيَبُ رَائِحَةً مِنْ الْمِسْكِ

Telah bercerita kepada kami Al Hasan bin Manshur, Abu 'Ali telah bercerita kepada kami Hajjaj bin Muhammad Al A'war di Mashishah telah bercerita kepada kami Syu'bah dari Al Hakam berkata; aku mendengar Abu Juhaifah berkata; Pada suatu hari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam keluar pada siang hari menuju Batha', kemudian berwudlu', lalu beliau shalat Zhuhur dua raka'at dan 'Ashar dua raka'at dan di hadapan beliau diletakkan tongkat'. Syu'bah berkata; dan 'Aun menambahkan dalam riwayat hadits ini dari bapaknya, Abu Juhaifah, berkata; "Saat itu lewat dari belakang tongkat tersebut seorang wanita, maka orang-orang pada berdiri lalu memegang tangan beliau, kemudian mengusapkannya pada wajah-wajah mereka". Dia (Abu Juhafah) berkata; "Maka aku pegang tangan beliau lalu kuusapkan ke wajahku yang ternyata tangan beliau itu lebih dingin dari pada salju dan lebih wangi dari pada minyak kasturi". (Shahih Bukhari, No 3289)

Sebuah Diskusi Tentang Salaman Cium Tangan (Albani Mode:On)

Terus terang saya dulu mengira berjabat tangan lalu menciumnya itu adalah tradisi atau budaya Indonesia saja.  Seperti ini lumrah terjadi disekitar saya, yaitu mencium tangan orang orang yang di hormati. Misalnya murid terhadap gurunya, anak terhadap orang tuanya dan menantu terhadap mertuanya dll. Dulu kira kira tahun 2008-nan saya di Makkah suka chating dengan menggunakan mig33. Disitu saya di invite masuk ke sebuah group diskusi. Pada suatu malam, tepatnya malam rabu, saya berdiskusi dengan teman chating yang berpaham salafi, yaitu dia menganggap bahwa mencium tangan disaat berjabat tangan itu tidak ada landasannya.
SILAHKAN ANDA SIMAK ISI DISKUSINYA DIBAWAH INI: Saya:”Kenapa anda menentang praktik cium tangan disaat bersalaman?”
Dia:”Iya, karena itu tidak ada tuntunannya !!
Saya:”Lah, maksudnya tuntunannya siapa mas?”
Dia:”Ya nabi kita Muhammad dong !!
Saya:”Kok bisa begitu? Inikan bukan ibadah? Bukan lagi masalah agama?”
Dia:”Iya, tapi ngapain hingga mencium tangan seperti itu segala?”
Saya:”Mas.. kami melakukan ini sebagai bentuk penghormatan… saya kira ini masalah akhlakul karimah?”
Dia:”Kalau anda menganggap ini termasuk akhlakul karimah, maka anda harus meniru orang yang akhlaknya paling mulia dimuka bumi ini, yaitu Nabi Muhammad —————————————–
* Terus terang, penjelasan dia yang ini, bikin aku tambah bingung dan tambah tersudut. Sehingga memaksa saya saat itu, mencari dan membuka kitab kitab hadits, guna untuk mencari referensi CIUM TANGAN SAAT BERJABAT TANGAN.
————————— Lanjutannya…
Saya:”Ok… ini mas saya menemukan sebuah hadits yang berhubungan dengan masalah ini, yaitu:
Cerita Ibnu Umar bersama sahabat yang lain, mereka mencium tangan Nabi?”
Dia:”Yang ceritanya mereka lari dari peperangan itukah?
_____________________
INILAH HADITS yang saya maksud itu:
عن ابن عمر رضي الله عنهما أنه كان في سرية من سرايا رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: فحاص الناس حيصة، فكنت في من حاص… قال: فجلسنا لرسول الله صلى الله عليه وسلم قبل صلاة الفجر، فلما خرج قمنا إليه فقلنا: نحن الفرارون؛ فأقبل إلينا فقال: “لا بل أنتم العكارون” قال: فدنونا فقبلنا يده.
Dari Ibnu Umar ra. Dia bercerita disaat dia menjadi salah satu pasukan infantri Rasulullah saw. Dia menuturkan:” Pada suatu hari kami berada dalam suatu pertempuran. Orang orang pada berlari menjauh dari peperangan tersebut karena mengalami keadaan yang delematis dan saya termasuk dari mereka itu. Kemudian dia melanjutkan ceritanya:”Kemudian kami semua akhirnya duduk untuk menghadap kepada baginda Rasulullah saw menjelang shalat subuh. Lalu keluarlah Rasul hendak menunaikan shalat subuhnya, maka kami berdiri dan kami berkata:” :”Kami orang orang yang lari (dari peperangan)pent.  Kemudian nabi menghampiri kami seraya berkata:”Tidak !! tapi kalian adalah orang orang yang mundur/lari, tapi untuk bergabung dengan yang lain (siasat perang-pent).  Ibnu Umar ra berkata:”Maka kami langsung mendekati beliau lalu kami mencium tangannya.
———————————————-
Saya:”Iya mas… bagaimana tuh?” saya kira ini sudah jelas?”
Dia:” Hadis diatas diriwayatkan oleh Abi Dawud (2647)
Imam Tirmidzi (1716)
Imam Ahmad (2/70),
Imam Baihaqi (9/73)
Hadits ini lemah mas !! coba anda lihat dalam kitab “DHOIF ABI DAWUD” milik syekh Al Bani.
Saya:”Tapi hadits lemah khan boleh diamalkan?” setahu saya begitu…
Dia:”Iya, tapi tidak bisa anda buat landasan hukum atau hujjah !!
Saya:”Lemahnya hadits ini terletak pada apanya mas?”
Dia:”Barangkali dari rawinya mas, anda cek aja langsung dalam kitabnya syekh Albani tsb. Kok repot !!
Saya:”Lantas bagaimana dengan hadits Tsabit yang mencium tangan sahabat Anas bin malik?” bukankah ini cukup untuk menjadi tendensi sebuah respek seorang Tabi’in terhadap sahabat Nabi?”
________________________
INILAH HADITS yang saya maksud itu:
حدثنا ابن عيينة عن ابن جدعان قال ثابت لأنس: أمسست النبي صلى الله عليه وسلم بيدك؟ قال: نعم, فقبلها.
Ibnu Uyaynah bercerita dari Ibnu Jad’aan: Tsabit bertanya kepada Anas bin malik ra:”Apakah anda pernah menyentuh Rasulullah saw dengan tangan anda?’ Anas ra menjawab:”Ya! Maka si Tsabit langsung mencium tangannya.
—————————-
Dia:”Itu diriwayatkan oleh imam Ahmad dan itu derajatnya hadits dhoif juga mas !!
Saya:”Tapi hadits tersebut juga diriwayatkan oleh imam Bukhari dalam kitab Adabul Mufradnya…
Dia:”Iya saya tahu, dalam kitab Bukhari yang berjudul Adabul Mufrad ada juga haditsnya yang dhoif, jadi hadits yang anda kemukakan itu statusnya lemah mas… coba anda lihat dalam kitab “DHO’IFU ADABUL MUFRAD hlm.973 karya syekh Albani.
Ini saya lihat langsung dari kitabnya.. jika berkenan, datang kemari mas… hahahaha..
——————————————————
*Semua dalil saya, dia mentahkan dengan dalih di dhoifkan oleh syekh Albani.
Berarti saya harus menemukan hadits nabi yang tidak di dhoifkan oleh syekh Albani.
Akhirnya jerih payah upayaku ini berhasil…
——————————————————
Saya:”Mas ini saya menemukan hadits pamungkasku, mohon dibaca dengan teliti dan seksama: (saya ketik duluan lalu saya copas)
حدثنا بن أبي مريم قال حدثنا عطاف بن خالد قال حدثني عبد الرحمن بن رزين قال مررنا بالربذة فقيل لنا ها هنا سلمة بن الأكوع فأتيته فسلمنا عليه فأخرج يديه فقال بايعت بهاتين نبي الله صصص فأخرج كفا له ضخمة كأنها كف بعير فقمنا إليها فقبلناها….. حسنه الالباني
“Abdurrahman bin Razin bercerita: Kami berjalan jalan di daerah Ribdzah kemudian ada yang mengatakan kepada kami: Disini Salmah bin Al Akwa’ tinggal (sahabat nabi)pent. Kemudian saya mendatangi beliau. Saya mengucapkan salam kepadanya. Dia mengeluarkan tangannya seraya berkata:”Saya pernah berbai’at kepada Nabi dengan kedua tangan saya ini. Lantas dia mengulurkan telapak tangannya yang besar seakan akan seperti telapaknya unta, maka kami langsung berdiri meraih telapak tangan beliau kamudian kami menciumnya.
————————————————–
 Saya:”Gimana mas?” Bukankah ini telah disebutkan oleh ibnu hajar dalam Fathul Barinya dengan mengakatan bahwa hadits ini “Hasan”.
Dia:”Maaf, anda mengambil dari mana hadits tersebut?”
Saya:”Lha khan sudah saya bilang mas… coba anda cek kitab Fathul Bari milik ibnu hajar. Tepatnya juz 11 hlm.57.
Dia:”Yang lain aja mas… dari kitab hadits apa gitu !!
Saya:”Hahahaha.. tidak punya kitab Fathul Bari ya mas?”
Dia:”Sekali lagi saya tanyakan, kalau tidak dijawab, akan ku hentikan diskusi ini !!
Saya:”Wah… kok emosi gitu mas… sudahlah… apakah komentar derajat “HASAN” dalam hadits tersebut dari ibnu hajar masih belum bisa anda terima?”
Dia:”Sudahlah… ada di kitab hadits mana hadits tersebut????
Saya:”Baiklah… coba anda buka kitab ADABUL MUFRAD hadits nomor 973.
Dia:”Yaahhh… kitab Adabul Mufrad lagi…. Khan sudah saya bilang, meski itu karangannya imam Bukhari tapi tidak sama dengan kitab SHOHIH nya mas… jangan jangan nanti dhoif lagi !! hahaha..
Saya:”Mas…. Jangan ngomong terus dong… cepat lihat sana !!
Dia:”Iya… ini sudah bisa aku temukan….
Saya:”Bagaimana?” apa komentar syekh Albani mengenai hadits tersebut?” katanya anda tadi punya kitab seleksi hadits Adabul Mufrad milik syekh Albani…?
Dia:”Iya… beliau mengatakan hadits ini berderajat “HASAN”
Saya:’Hahahahha.. gimana mas, puaskah??? Masihkan anda berkomentar? Atau mau meremehkan?”  berarti hadits tersebut tidak dhoif khan?”
Dia:”Iya…
Saya:”Hahahaha… saya kira diskusi kita ini selesai mas… Namun jika anda masih kurang puas dengan ini semua, anda tidak suka fenomena cium tangan dalam masyarakat kita, atau anda tidak suka dicium tangannya oleh orang lain, ya sudah… cukup anda diam… jangan menyalahkan mereka, bahkan jangan hingga membid’ahkan kami yang melakukan itu… Saya kira ini adalah sifat dan sikap terpuji anda dan golongan anda !!
Dan ternyata cium tangan saat berjabatan itu ada tuntunannya !!
Dia:”Iya… Assalamu’alaikum…
Saya:”Lho kok??? Wa’alaikumussalam…
S E L E S A  I
—————————
Terima kasihku kepada syekh Nashirudin Al Albani, karena karyamu memberi manfaat bagi saya sehingga bisa membantuku memberi pencerahan kepada sahabat maya saya.
Doaku, semoga Allah swt mengampuni segala dosa dan kesalahan kita.
Amin ya Rabb”.

Allahu A'lamu. 
From Sarkubiyah by oleh Kaheel Baba Naheel

Ziarah Ke Makam Rasulullah SAW

Berziarah ke makam Rasulullah SAW adalah sunnah hukumnya. Rasulullah SAW sendiri bersabda:
مَنْ جَائَنِي زَائِرًا لَمْ تَدْعُهُ حَاجَةٌ اِلاَّ زِيَارَتِي كَانَ حَقًّا عَلَى اللهِ تَعَالَى أنْ أكُوْنَ شَفِيْعًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Siapa saja yang datang kepadaku untuk berziarah, dan keperluannya hanya utnuk beziarah kepadaku maka Allh SWT memberikan jaminan agar aku menjadi orang yang memberi syafa’at (pertolongan) kepadanya di hari kiamat nanti. (HR Darul Quthni)
ِApalagi ziarah itu dilakukan pada saat melakukan ibadah haji. Dalam hadits lain disebutkan:
عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ حَجَّ فَزَارَ قَبْرِي بَعْدَ مَوْتِي كَانَ كَمَنْ زَارَنِيْ فِي حَيَاتِهِ
Dari Ibn ‘Umar RA. Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: “Siapa yang melaksanakan ibadah haji, lalu berziarah ke makamku setelah aku meninggal dunia, maka ia seperti orang yang berziarah kepadaku ketika aku masih hidup.” (HR Darul Quthni)
Atas dasar ini, pengarang kitab I’anatut Thalibin menyatakan: “Berziarah ke makam Nabi Muhammad merupakan salah satu qurbah (ibadah) yang paling mulia, karena itu, sudah selayaknya untuk diperhatikan oleh seluruh umat Islam. Dan hendaklah waspada, jangan sampai tidak berziarah padahal dia telah diberi kemampuan oleh Allah SWT, lebih-Iebih bagi mereka yang telah melaksanakan ibadah haji. Karena hak Nabi Muhammad SAW yang harus diberikan oleh umatnya sangat besar. Bahkan jika salah seorang di antara mereka datang dengan kepala dijadikan kaki dari ujung bumi yang terjauh hanya untuk berziarah ke Rasullullah SAW maka itu tidak akan cukup untuk memenuhi hak yang harus diterima oleh Nabi SAW dari umatnya. Mudah-mudahan Allah SWT membalas kebaikan Rasullullah SAW kepada kaum muslimin dengan sebaik-baik balasan.” (I’anatut Thalibin, juz II, hal 313)
Lalu, bagaimana dengan kekhawatiran Rasulullah SAW yang melarang umat Islam menjadikan makam beliau sebagai tempat berpesta, atau sebagai berhala yang disembah.. Yakni dalam hadits Rasulullah SAW:
عَنْ أبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاَتَتَّخِذُوْا قَبْرِي عِيْدًا وَلا تَجْعَلُوا بُيُوْتَكُمْ قُبُوْرًا وَحَيْثُمَا كُنْتُمْ فَصَلُّوْا عَلَيَّ فَاِنَّ صَلَاتَكُمْ تَبْلُغُنِي
Dari Abu Hurairah RA. Ia berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Janganlah kamu jadikan kuburanku sebagai tempat perayaan, dan janganlah kamu jadikan rumahmu sebagai kuburan. Maka bacalah shalawat kepadaku. Karena shalawat yang kamu baca akan sampai kepadaku di mana saja kamu berada.” (Musnad Ahmad bin Hanbal: 8449)
Menjawab kekhawatiran Nabi SAW ini, Sayyid Muhammad bin ‘Alawi Maliki al-Hasani menukil dari beberapa ulama, lalu berkomentar:
“Sebagian ulama ada yang memahami bahwa yang dimaksud (oleh hadits itu adalah) larangan untuk berbuat tidak sopan ketika berziarah ke makam Rasulullah SAW. Yakni dengan memainkan alat musik atau permainan lainnya, sebagaimana yang biasa dilakukan ketika ada perayaan. (Yang seharusnya dilakukan adalah) umat Islam berziarah ke makam Rasul hanya untuk menyampaikan salam kepada Rasul, berdo’a di sisinya, mengharap berkah melihat makam Rasul, mendoakan serta menjawab salam Rasulullah SAW. (Itu semua dilakukan) dengan tetap menjaga sopan santun yang sesuai dengan maqam kenabiannya yang mulia.”  (Manhajus Salaf fi Fahmin Nushush bainan Nazhariyyah wat-Tathbiq, 103)
Maka, berziarah ke makam Rasulullah SAW tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Bahkan sangat dianjurkan karena akan mengingatkan kita akan jasa dan perjuangan Nabi Muhammad SAW, sekaligus menjadi salah satu bukti mengguratnya kecintaan kita kepada beliau.


Oleh KH.Muhyiddin Abdusshomad Pengasuh Pondok Pesantren Nuris

Mencium Tangan Orang Saleh dan Berdiri Menghormati Kedatangan Seorang Muslim

mencium-tangan-300x199 Perlu diketahui bahwa mencium tangan orang yang saleh, penguasa yang bertakwa dan orang kaya yang saleh adalah perkara yang mustahabb (sunnah) yang disukai Allah, berdasarkan hadits-hadits Nabi dan dan atsar para sahabat.

Di antaranya hadits yang diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan lainnya: bahwa ada dua orang Yahudi bersepakat “Mari kita pergi menghadap Nabi ini untuk menanyainya tentang sembilan ayat yang Allah turunkan kepada Nabi Musa. Maksud dua orang ini adalah ingin mencari kelemahan Nabi karena diaummi (karenanya mereka menganggapnya tidak mengetahui sembilan ayat tersebut) , maka tatkala Nabi menjelasan kepada keduanya (tentang sembilan ayat tersebut) keduanya terkejut dan langsung mencium kedua tangan Nabi dan kakinya. Imam at–Tarmidzi berkomentar tentang hadits ini: ” hasan sahih “.

Abu asy-Syaikh dan Ibnu Mardawaih meriwayatkan dari Ka’ab bin Malik -semoga Allah meridlainya- dia berkata: “Ketika turun ayat tentang (diterimanya) taubat-ku, aku mendatangi Nabi lalu mencium kedua tangan dan lututnya” .

Imam al Bukhari meriwayatkan dalam kitabnya al Adab al Mufrad bahwa Ali bin Abi Thalib -semoga Allah meridlainya- telah mencium tangan Abbas dan kedua kakinya, padahal Ali lebih tinggi derajatnya daripada ‘Abbas namun karena ‘Abbas adalah pamannya dan orang yang saleh maka dia mencium tangan dan kedua kakinya.

Demikian juga dengan ‘Abdullah ibnu ‘Abbas -semoga Allah meridlainya- yang termasuk kalangan sahabat yang kecil ketika Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam mwninggal. Dia pergi kepada sebagian sahabat untuk menuntut ilmu dari mereka. Suatu ketika beliau pergi kepada Zaid bin Tsabit yang merupakan sahabat yang paling banyak menulis wahyu, ketika itu Zaid sedang keluar dari rumahnya. Melihat itu ‘Abdullah bin Abbas memegang tempat Zaid meletakan kaki di atas hewan tunggangannya. Lalu Zaid bin Tsabit-pun mencium tangan ‘Abdullah bin ‘Abbas karena dia termasuk keluarga Rasulullahshallallahu ‘alayhi wasallam sambil mengatakan: “Demikianlah kami memperlakukan keluarga Rasulullahshallallahu ‘alayhi wasallam“. Padahal Zaid bin Tsabit lebih tua dari ‘Abdullah bin ‘Abbas. Atsar ini diriwayatkan oleh al Hafizh Abu Bakar bin al Muqri pada Juz Taqbil al Yad.

Ibnu Sa’ad juga meriwayatkan dengan sanadnya dalam kitab Thabaqaat dari ‘Abdurrahman bin Zaid al ‘Iraqi, ia berkata: “Kami telah mendatangi Salamah bin al Akwa’ di ar-Rabdzah lalu ia mengeluarkan tangannya yang besar seperti sepatu kaki unta lalu dia berkata : “Dengan tanganku ini aku telah membaiat Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam, lalu kami meraih tangannya dan menciumnya “.

Juga telah diriwayatkan dengan sanad yang sahih bahwa Imam Muslim mencium tangan Imam al Bukhari dan berkata kepadanya: 
ولو أذنت لي لقبلت رجلك 
“Seandainya anda mengizinkan pasti aku cium kaki anda”.

Dalam kitab at-Talkhish al Habir karangan al Hafizh Ibnu Hajar al ‘Asqalani disebutkan: ” Dalam masalah mencium tangan ada banyak hadits yang dikumpulkan oleh Abu Bakar bin al Muqri, kami mengumpulkannya dalam satu juz, di antaranya hadits Ibnu Umar dalam suatu kisah beliau berkata:
فدنونا من التبي صلى الله عليه وسلم فقبلنا يده ورجله (رواه أبو داود)  
“Maka kami mendekat kepada Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam lalu kami cium tangan dan kakinya”.
Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud.

Di antaranya juga hadits Shafwan bin ‘Assal, dia berkata: “Ada seorang Yahudi berkata kepada temannya: Mari kita pergi kepada Nabi ini (Muhammad). Lanjutan hadits ini:
فقبلا يده ورجله وقالا: نشـهد أنك نبي 
“Maka keduanya mencium tangan Nabi dan kakinya lalu berkata: Kami bersaksi bahwa engkau seorang Nabi”.

Hadits ini diriwayatkan oleh Para Penulis Kitab-kitab Sunan (yang empat) dengan sanad yang kuat.

Juga hadits az-Zari’ bahwa ia termasuk rombongan utusan Abdul Qays, ia berkata:
فجعلنا نتبادر من رواحلنا فنقبل يد النبي صلى الله عليه وسلم  
“Maka kami bergegas turun dari kendaraan kami lalu kami mencium tangan Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam ”.
Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud.

Dalam hadits tentang peristiwa al Ifk (tersebarnya kabar dusta bahwa ‘Aisyah berzina) dari ‘Aisyah, ia berkata : Abu Bakar berkata kepadaku :
قومي فقبلي رأسه  
“Berdirilah dan cium kepalanya (Nabi)”.

Dalam kitab sunan yang tiga (Sunan Abu Dawud, at-Tirmidzi dan an-Nasa-i) dari ‘Aisyah ia berkata:
ما رأيت أحدا كان أشبه سمتا وهديا ودلا برسول الله من فاطمة، وكان إذا دخلت عليه قام إليها فأخذ بيدها فقبلها وأجلسها في مجلسه ، وكانت إذا دخل عليها قامت إليه فأخذت بيده فقبلته، وأجلسته في مجلسها  
“Aku tidak pernah melihat seorangpun lebih mirip dengan Rasulullah dari Fathimah dalam sifatnya, cara hidup dan gerak-geriknya. Ketika Fathimah datang kepada Nabi, Nabi berdiri menyambutnya lalu mengambil tangannya kemudian menciumnya dan membawanya duduk di tempat duduk beliau, dan apabila Nabi datang kepada Fathimah, Fathimah berdiri menyambut beliau lalu mengambil tangan beliau kemudian menciumnya, setelah itu ia mempersilahkan beliau duduk di tempatnya”.
Demikian penjelasan al Hafizh Ibnu Hajar dalam kitab at-Talkhish al Habir .

Dalam hadits yang terakhir disebutkan juga terdapat dalil kebolehan berdiri untuk menyembut orang yang masuk datang ke suatu tempat jika memang bertujuan untuk menghormati bukan untuk bersombong diri dan menampakkan keangkuhan.

Sedangkan hadits riwayat Ahmad dan at-Tirmidzi dari Anas bahwa para sahabat jika mereka melihat Nabi mereka tidak berdiri untuknya karena mereka mengetahui bahwa Nabi tidak menyukai hal itu, hadits ini tidak menunjukkan kemakruhan berdiri untuk menghormati. Karena Rasulullah tidak menyukai hal itu sebab takut akan diwajibkan hal itu atas para sahabat. Jadi beliau tidak menyukainya karena menginginkan keringanan bagi ummatnya dan sudah maklum bahwa Rasulullah kadang suka melakukan sesuatu tapi ia meninggalkannya meskipun ia menyukainya karena beliau menginginkan keringanan bagi ummatnya.

Sedangkan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan at-Tirmidzi bahwa Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda :
” من أحب أن يتمثل له الرجال قياما فليتبوأ مقعده من النار” 
Berdiri yang dilarang dalam hadits ini adalah berdiri yang biasa dilakukan oleh orang-orang Romawi dan Persia kepada raja-raja mereka. Jika mereka ada di suatu majlis lalu raja mereka masuk mereka berdiri untuk raja mereka dengan Tamatstsul ; artinya berdiri terus hingga sang raja pergi meninggalkan majlis atau tempat tersebut. Ini yang dimaksud dengan Tamatstsul dalam bahasa Arab.

Sedangkan riwayat yang disebutkan oleh sebagian orang bahwa Nabi shallallahu ‘alayhi wasallammenarik tangannya dari tangan orang yang ingin menciumnya, ini adalah hadits yang sangat lemah menurut ahli hadits.

Sungguh aneh orang yang menyebutkan hadits tersebut dengan tujuan menjelekkan mencium tangan, bagaimana dia meninggalkan sekian banyak hadits sahih yang membolehkan mencium tangan dan berpegangan dengan hadits yang sangat lemah untuk melarangnya !?.


Wallahu A'lam